Periskop.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan tengah mengembangkan inovasi berbasis teknologi nuklir yang diterapkan pada sektor kesehatan dan pangan. Termasuk untuk mendukung ekspor produk pertanian unggulan Indonesia.

Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan, teknologi ini memungkinkan pengolahan dan pengawetan pangan melalui iradiasi, sehingga kualitas, kandungan gizi, dan keamanan pangan dari hama maupun mikroba dapat terjamin. 

Advertisement

“Selama ini kita mengandalkan fasilitas negara lain untuk iradiasi pangan sebelum ekspor, yang tentu menambah biaya. Sekarang BRIN telah menyiapkan fasilitas di Jakarta untuk melakukan iradiasi secara lokal,” ujarnya dalam Konferensi Internasional Milad ke-72 Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, Senin (8/6).

BRIN juga telah menghasilkan varietas unggul Sidenuk, yang dikembangkan menggunakan teknologi nuklir. Varietas ini memiliki produktivitas tinggi, tahan hama, dan menjadi alternatif penting untuk memperkuat daya saing pangan Indonesia di pasar global.

“Ini solusi strategis agar pangan kita bisa bertarung di level internasional melalui teknologi nuklir,” kata Arif. 

Selain pangan, Arif menyoroti peran teknologi nuklir dalam sektor kesehatan, terutama radiologi dan layanan medis berbasis nuklir. “Teknologi nuklir untuk kesehatan sudah banyak dimanfaatkan, misalnya untuk radiologi, yang penting untuk deteksi dini dan perawatan pasien,” tuturnya. 

Langkah BRIN ini sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan akses teknologi kesehatan mutakhir, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia pada fasilitas internasional.

Pakar pertanian dan energi nuklir menyambut inisiatif ini sebagai inovasi penting yang dapat memacu ekspor produk pangan, sekaligus memberikan dampak positif bagi sektor kesehatan, di tengah meningkatnya kebutuhan solusi berbasis sains untuk tantangan global.