periskop.id - Program perluasan jaringan pita lebar (broadband) "Online Azerbaijan" kini telah menjangkau 99,7% wilayah negara tersebut, menyentuh hampir seluruh sudut, dari kota besar hingga desa pegunungan paling terpencil. Pencapaian ini menjadi salah satu transformasi infrastruktur digital tercepat di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah.

Proyek ambisius itu digarap oleh Aztelekom, bagian dari AZCON Holding, dengan dukungan teknologi Huawei. Hasilnya, sekitar tiga juta pengguna, baik rumah tangga maupun pelaku usaha, kini dapat menikmati koneksi internet berkecepatan tinggi. Dari angka itu, sekitar dua juta sambungan baru berhasil direalisasikan hanya dalam dua tahun terakhir.

Advertisement

Apa Itu Program Online Azerbaijan?

Program "Online Azerbaijan" diluncurkan oleh Kementerian Pengembangan Digital dan Transportasi Azerbaijan pada 2021. Tujuan awalnya satu: mendorong kecepatan rata-rata internet pada jaringan broadband nasional hingga menyentuh 50 Mbps sebelum akhir 2025.

Target program dirancang berdasarkan tiga variabel, yaitu kepadatan penduduk, potensi infrastruktur, dan indikator sosial di 14 kawasan ekonomi Azerbaijan. Pendekatan berbasis data ini memungkinkan distribusi jaringan yang merata, bukan sekadar memprioritaskan wilayah padat.

CEO Aztelekom Hasan Omarov menegaskan bahwa program ini bukan sekadar modernisasi teknologi. "'Online Azerbaijan' merupakan salah satu proyek infrastruktur terbesar dalam sejarah negara kami. Untuk pertama kalinya, seluruh warga, terlepas dari lokasi tempat tinggalnya, memperoleh akses yang setara terhadap layanan internet berkecepatan tinggi, serta peluang digital yang sama," ujarnya.

Dari 11,7 Mbps ke 88,84 Mbps dalam Empat Tahun

Saat program ini dimulai, kecepatan internet rata-rata Azerbaijan baru berada di angka 11,7 Mbps. Pada 2025, angka tersebut telah melonjak menjadi 88,84 Mbps, atau lebih dari tujuh kali lipat dalam kurun waktu empat tahun.

Lonjakan itu didorong oleh pembangunan infrastruktur serat optik dalam skala besar, termasuk penggantian menyeluruh jaringan kabel tembaga lama dengan jaringan serat optik modern. Hasilnya bukan hanya kecepatan yang meningkat, tapi juga latensi yang jauh lebih rendah.

Dampaknya turut tercermin pada peringkat internasional. Azerbaijan naik sembilan posisi dalam Indeks Pembangunan E-Government Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan untuk pertama kalinya masuk dalam kelompok negara dengan tata kelola digital terbaik pada 2025.

Peran Huawei TECH4ALL dalam Pembangunan Infrastruktur

Huawei berkontribusi melalui program inklusi digital TECH4ALL, menghadirkan jaringan serat optik berkecepatan gigabit (all-optical gigabit fiber) hingga ke sejumlah desa paling sulit dijangkau di Azerbaijan. Secara teknis, solusi ini menggantikan sistem pengalihan sinyal berbasis listrik dengan teknologi optik guna memenuhi kebutuhan jaringan cepat dengan latensi rendah.

Direktur TECH4ALL Program Office Huawei, Cui Yangyang, menyampaikan, "Setiap orang yang memiliki akses internet berkecepatan tinggi, di mana pun mereka berada, akan memperoleh semakin banyak kesempatan untuk berkembang, serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi digital dan masa depan yang lebih sejahtera."

Hasan Omarov menambahkan bahwa kapabilitas Huawei dalam menangani proyek berskala besar menjadi fondasi penting. Ke depan, infrastruktur yang telah dibangun ini akan menjadi landasan penerapan teknologi 10G dan 50G PON demi menghadirkan layanan broadband ultra-cepat berkapasitas tinggi.

Dampak Nyata bagi Desa Terpencil dan Rencana Ekspansi

Sebelum program ini berjalan, banyak kawasan pedesaan Azerbaijan hanya memiliki akses terbatas terhadap konektivitas modern. Di desa pegunungan seperti Khinalig, kehadiran internet berkecepatan tinggi membuka peluang baru bagi pelaku usaha kecil, sektor pariwisata, hingga pengrajin lokal yang kini bisa memasarkan produk tradisional mereka ke audiens global melalui livestreaming.

Akses pendidikan daring di sekolah-sekolah pedesaan pun ikut meluas, mempersempit kesenjangan belajar antara siswa di daerah terpencil dan mereka yang tinggal di perkotaan.

Selain pendidikan, Azerbaijan juga sedang mengembangkan proyek telemedisin dan smart city di berbagai wilayah. Pada tahap berikutnya, "Online Azerbaijan" akan berfokus memperluas penerapan teknologi 5G dan Internet of Things (IoT) ke wilayah paling terpelosok, sembari tetap mengedepankan efisiensi energi dan teknologi ramah lingkungan.

Program ini telah meraih lima penghargaan internasional dan diangkat sebagai studi kasus oleh Harvard Business Review Türkiye serta buku "Principles of Modern Marketing" karya Philip Kotler. Pencapaian Azerbaijan membuktikan bahwa perluasan broadband skala nasional, bila dirancang dengan tepat, bisa menjadi katalis transformasi sosial dan ekonomi yang nyata.