Periskop.id - Mahasiswa Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) menghadirkan inovasi popok bayi ramah lingkungan berbahan 100% biodegradable. Produk tersebut dikembangkan sebagai alternatif untuk mengurangi persoalan limbah popok sekali pakai yang selama ini sulit terurai dan menjadi salah satu sumber sampah rumah tangga.
Inovasi itu digagas oleh Tim Impacta dalam kompetisi Business Plan Spark Up Challenge 2026 yang diselenggarakan Indonesian Banking School. Tim tersebut terdiri atas tiga mahasiswa lintas program studi, yakni Fairuz Syarapina dari Program Studi Administrasi Asuransi dan Aktuaria, Dede Nawa dari Program Studi Administrasi Perpajakan, serta Ivena Hawa Tunaya dari Program Studi Penyiaran Multimedia.
Fairuz mengatakan, produk yang mereka tawarkan tidak hanya dirancang sebagai popok bayi sekali pakai, tetapi juga dilengkapi dengan disposal bag khusus. Kantong pembuangan tersebut dibuat untuk membantu mempercepat proses penguraian limbah popok setelah digunakan.
"Kami menghadirkan inovasi popok bayi ramah lingkungan berbahan 100% biodegradable yang dilengkapi dengan disposal bag khusus untuk membantu mempercepat proses penguraian limbah popok," kata Fairuz Syarapina di Depok, Jumat (12/6).
Gagasan ini lahir dari kepedulian Tim Impacta terhadap tingginya volume limbah popok bayi sekali pakai. Dalam kehidupan sehari-hari, popok menjadi produk kebutuhan rumah tangga yang sulit dihindari, terutama bagi keluarga dengan bayi dan balita. Namun, di sisi lain, limbah popok sekali pakai membutuhkan waktu lama untuk terurai sehingga menambah beban pengelolaan sampah.
Fairuz menjelaskan, masalah limbah popok tidak bisa hanya dipandang sebagai urusan rumah tangga. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan industri kebutuhan bayi, desain produk, perilaku konsumsi, dan tanggung jawab lingkungan.
“Kami melihat bahwa limbah popok menjadi salah satu penyumbang sampah yang cukup besar dan membutuhkan waktu lama untuk terurai. Melalui inovasi ini, kami ingin menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan tanpa mengurangi fungsi dan kenyamanan produk bagi penggunanya,” ujar Fairuz.
SDG 12
Popok ramah lingkungan yang dikembangkan Tim Impacta juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals atau SDGs, khususnya tujuan ke-12 tentang Responsible Consumption and Production. Tujuan ini mendorong pola konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab, termasuk pengurangan limbah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali.
United Nations menyebut SDG 12 berfokus pada pola konsumsi dan produksi berkelanjutan yang penting untuk menjaga kehidupan generasi saat ini dan mendatang. Dalam target SDG 12, dunia didorong mengurangi timbulan limbah secara substansial melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali pada 2030.
Dalam konteks Indonesia, isu limbah popok sekali pakai menjadi perhatian karena volumenya terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah anak dan pola konsumsi masyarakat. Sebuah kajian pada 2024 memprediksi volume sampah popok bayi dapat meningkat dari 435,48 juta unit pada 2024 menjadi 509,90 juta unit pada 2028 jika tidak ada intervensi pengelolaan yang lebih baik.
Persoalan lain adalah pola pembuangan yang belum selalu tepat. Publikasi pengabdian masyarakat pada 2026 mencatat popok sekali pakai menjadi isu lingkungan yang sulit diatasi karena tidak mudah terurai. Di beberapa wilayah, limbah popok masih dibuang ke sungai, ditimbun, atau dibakar sehingga berisiko mencemari air dan tanah.
Berangkat dari kondisi tersebut, inovasi seperti popok biodegradable menjadi relevan. Produk semacam ini tidak otomatis menyelesaikan seluruh masalah sampah popok, tetapi dapat menjadi salah satu langkah awal untuk menekan dampak lingkungan dari produk bayi sekali pakai.
Selain aspek lingkungan, Tim Impacta juga memposisikan ide tersebut sebagai rencana bisnis. Dalam kompetisi Business Plan Spark Up Challenge 2026, mereka harus melalui sejumlah tahapan, mulai dari pendaftaran, penyusunan dan pengumpulan Business Model Canvas, seleksi proposal bisnis, hingga presentasi dan pitching deck pada tahap final.
Proses itu membuat para anggota tim tidak hanya memikirkan sisi produk, tetapi juga model bisnis, segmen konsumen, strategi pemasaran, potensi biaya produksi, serta nilai tambah yang dapat ditawarkan kepada pasar. Mereka juga harus memahami apakah produk ramah lingkungan dapat tetap kompetitif dari sisi harga dan kenyamanan.
Tantangan yang dihadapi cukup besar karena isu keberlanjutan dan industri produk bayi berada di luar bidang studi utama masing-masing anggota tim. Namun, perbedaan latar belakang justru menjadi kekuatan dalam penyusunan gagasan.
Fairuz memiliki latar belakang administrasi asuransi dan aktuaria, Dede berasal dari administrasi perpajakan, sementara Ivena menekuni penyiaran multimedia. Kombinasi itu memberi ruang bagi tim untuk menggabungkan analisis risiko, perencanaan bisnis, pemahaman regulasi, dan strategi komunikasi.
Kolaborasi lintas disiplin tersebut juga menjadi salah satu nilai penting dari pendidikan vokasi. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori di ruang kelas, tetapi juga mampu menerapkannya untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Dalam proses persiapan, Tim Impacta melakukan riset mengenai isu keberlanjutan, limbah rumah tangga, dan kebutuhan konsumen terhadap produk bayi. Mereka juga mempelajari bagaimana inovasi produk dapat tetap mempertahankan fungsi utama popok, yaitu daya serap, kenyamanan, keamanan, dan kemudahan penggunaan.
Perspektif Baru
Menurut Fairuz, kompetisi ini memberi pengalaman baru tentang bagaimana ilmu yang mereka pelajari dapat digunakan untuk membuat solusi yang punya nilai ekonomi sekaligus dampak sosial dan lingkungan.
"Kompetisi ini memberikan perspektif baru bahwa ilmu yang kami pelajari di bangku kuliah dapat diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan sosial dan lingkungan. Kami belajar bahwa kemampuan analisis, pengelolaan risiko, serta penyusunan strategi bisnis dapat diintegrasikan untuk menghasilkan inovasi yang tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” kata Fairuz.
Inovasi Tim Impacta juga menunjukkan peluang berkembangnya bisnis hijau di sektor produk bayi. Saat kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan meningkat, produk kebutuhan harian yang lebih ramah lingkungan berpotensi mendapat tempat di pasar. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada harga yang terjangkau, kualitas produk, dan edukasi konsumen.
Dalam kasus popok bayi, konsumen tidak hanya mempertimbangkan aspek ramah lingkungan. Orang tua biasanya tetap menempatkan kenyamanan bayi, keamanan bahan, daya serap, kemudahan pembuangan, serta harga sebagai faktor utama. Karena itu, inovasi biodegradable harus mampu menjawab seluruh kebutuhan tersebut agar dapat bersaing dengan popok konvensional.
Selain itu, produk ramah lingkungan juga membutuhkan dukungan sistem pengelolaan limbah. Disposal bag khusus yang dikembangkan Tim Impacta menjadi salah satu upaya untuk membantu proses pembuangan yang lebih baik. Namun, edukasi kepada pengguna tetap diperlukan agar popok tidak dibuang sembarangan, dibakar, atau masuk ke saluran air.
Dengan menghadirkan popok bayi biodegradable, Tim Impacta mencoba menawarkan solusi dari hulu, yakni melalui desain produk yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip konsumsi dan produksi berkelanjutan, yakni mengurangi dampak lingkungan sejak tahap produksi, penggunaan, hingga pembuangan.
Kehadiran inovasi tersebut juga memperlihatkan bahwa isu lingkungan dapat menjadi ruang kolaborasi lintas bidang. Mahasiswa administrasi, perpajakan, aktuaria, dan multimedia dapat berkontribusi dalam merancang solusi, tidak hanya dari sisi teknologi produk, tetapi juga model bisnis, komunikasi publik, dan strategi keberlanjutan.
Jika dikembangkan lebih lanjut, popok bayi ramah lingkungan karya mahasiswa Vokasi UI ini berpotensi menjadi contoh bagaimana pendidikan vokasi dapat melahirkan ide bisnis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Produk tersebut menggabungkan kepedulian lingkungan, kebutuhan keluarga muda, dan peluang industri hijau yang semakin berkembang.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar