periskop.id - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencata volume penumpang angkutan umum menembus sepuluh juta orang selama masa mudik Lebaran. Angka ini memperlihatkan lonjakan mobilitas masyarakat yang cukup signifikan dibanding perayaan libur raya tahun sebelumnya.
"Pergerakan penumpang angkutan umum secara kumulatif, sejak H-8 hingga H-1 Lebaran tercatat mencapai 10.003.583 orang," katanya Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub Ernita Titis Dewi dalam keterangan resmi, Sabtu (21/3).
Jumlah tersebut menandai kenaikan penumpang sebesar 9,23%. Pada periode angkutan mudik tahun lalu, pemerintah mencatat pergerakan 9.158.315 pengguna transportasi umum.
Sektor perkeretaapian mendominasi pilihan moda transportasi warga dengan total 2.981.945 orang. Catatan ini naik sekitar 13,22% dari angka tahun lalu.
Angkutan penyeberangan menempati urutan mobilitas tertinggi kedua dengan melayani 2.482.303 pengguna jasa. Lonjakan penumpang pada sektor kapal feri ini mencapai 14,78%.
Moda transportasi udara juga mengalami kenaikan 3,05% menjadi 2.190.282 orang. Sementara itu, angkutan darat mengangkut 1.587.060 penumpang disusul angkutan laut sebanyak 761.993 orang.
Volume kendaraan roda empat terpantau sangat padat di sejumlah simpul keluar masuk kota. Sebanyak 117.016 unit kendaraan tercatat keluar dari gerbang Tol Jakarta khusus pada H-1 (20/3).
Pergerakan arus lalu lintas di ruas jalan arteri menunjukkan 474.454 kendaraan meninggalkan kawasan Jabodetabek. Volume kendaraan pada jalur arteri non-Jabodetabek bahkan menembus angka 491.901 unit.
Pelaksanaan operasional angkutan mudik ini mengacu secara ketat pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 59. Regulasi tersebut memuat pedoman kerja Tim Koordinasi Penyelenggaraan Angkutan Lebaran Terpadu.
Khusus pergerakan harian pada H-1 (20/3), pengguna angkutan umum menyentuh angka 915.635 orang. Kereta api dan pesawat terbang mendominasi mobilitas harian masyarakat menjelang hari raya.
Kinerja ketepatan waktu operasional angkutan umum terpantau sangat optimal pada periode H-1. Kereta api regional memimpin dengan tingkat presisi jadwal keberangkatan mencapai 98,90%.
Ernita mengatakan pemerintah kini mulai mengalihkan fokus pada penanganan kelancaran arus balik. Puncak pergerakan kepulangan warga diprediksi jatuh pada H+3 (24/3).
"Masyarakat untuk merencanakan perjalanan arus balik lebih awal menghindari waktu-waktu puncak," ujarnya.
Langkah memajukan jadwal kepulangan berguna memecah konsentrasi kepadatan jalan. "Serta mempertimbangkan alternatif jadwal perjalanan guna mengurangi kepadatan serta memastikan perjalanan tetap aman dan nyaman,” tambahnya.
Kondisi fisik prima dan ketersediaan obat-obatan pribadi menjadi persiapan krusial bagi para pemudik. Pemeriksaan komponen kendaraan juga wajib dilakukan sebelum melintasi jalur antarprovinsi.
Penggunaan jasa transportasi resmi sangat dianjurkan demi jaminan keselamatan di jalan raya. "Kepatuhan terhadap arahan petugas di lapangan juga menjadi kunci dalam menjaga kelancaran, keselamatan, dan kenyamanan perjalanan," ucap Ernita.
Tinggalkan Komentar
Komentar