Periskop.id - Masalah sampah masih menjadi tantangan besar di berbagai kota di Indonesia. Seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, volume sampah terus meningkat setiap tahun. Kondisi ini membuat tempat pembuangan akhir atau TPA menghadapi tekanan yang semakin besar.
Melansir berbagai sumber, beberapa TPA terbesar di Indonesia kini menghadapi berbagai persoalan serius. Mulai dari kapasitas yang hampir penuh, risiko longsor, hingga dampak kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Berikut penjelasan mengenai beberapa TPA terbesar di Indonesia beserta tantangan yang mereka hadapi.
TPST Bantargebang
TPST Bantargebang yang berada di wilayah Bekasi Timur menjadi salah satu tempat pembuangan sampah paling dikenal di Indonesia. Lokasi ini sering disebut sebagai TPA terbesar di Indonesia.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut luas wilayah Bantargebang mencapai 110,3 hektar. Tumpukan sampah di lokasi ini bahkan telah mencapai ketinggian sekitar 40 meter. Tinggi gunungan sampah tersebut setara dengan gedung sekitar 16 lantai.
Setiap hari, sekitar 7.500 hingga 7.800 ton sampah dikirim ke TPST Bantargebang dari wilayah Jakarta.
Dengan jumlah tersebut, total timbulan sampah yang sudah terkumpul diperkirakan mencapai sekitar 39 juta ton. Kondisi ini membuat kapasitas tempat pembuangan tersebut diperkirakan hanya tersisa sekitar 20%.
Banyaknya sampah yang masuk juga menciptakan ekosistem ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sejak diresmikan pada tahun 1986, lebih dari 7.000 pemulung menggantungkan hidupnya dari aktivitas memilah sampah di Bantargebang.
Mereka biasanya menunggu kedatangan truk sampah untuk mencari barang yang masih memiliki nilai jual.
Namun kondisi tersebut juga menimbulkan dampak sosial dan kesehatan. Bau menyengat dari tumpukan sampah sering menimbulkan masalah kesehatan bagi warga sekitar. Anak-anak hingga orang dewasa kerap mengalami tekanan sosial karena bau tidak sedap yang menempel di pakaian dan tubuh mereka.
TPA Jatibarang
TPA Jatibarang yang terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah juga termasuk salah satu TPA terbesar di Indonesia. Tempat pembuangan ini memiliki luas sekitar 46 hektar.
Dari total luas tersebut, sekitar 27,64 hektar digunakan sebagai area landfill atau penimbunan sampah. Sementara itu, 4,6 hektar digunakan untuk infrastruktur pendukung dan sekitar 13,8 hektar dimanfaatkan untuk kolam lindi, sabuk hijau, serta area penutup sampah.
TPA Jatibarang menerima sekitar 900 hingga 1.000 ton sampah setiap hari. Tempat ini telah beroperasi sejak tahun 1992.
Namun pengelolaan sampah di lokasi ini masih menghadapi berbagai kendala. Kapasitas TPA Jatibarang bahkan dilaporkan sudah overload sejak tahun 2022. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya longsor pada timbunan sampah.
TPA Benowo
TPA Benowo berada di Kelurahan Sumberrejo, Surabaya. Tempat pembuangan ini mulai beroperasi sejak tahun 2001 dan memiliki luas sekitar 37,5 hektar.
Setiap hari sekitar 1.600 hingga 1.700 ton sampah dari berbagai wilayah Surabaya masuk ke TPA Benowo. Sebagian besar sampah yang masuk merupakan sampah rumah tangga.
Sekitar 60% hingga 70% dari sampah tersebut berupa sampah organik. Berbeda dengan beberapa TPA lain, Benowo memiliki fasilitas pengolahan sampah yang relatif modern.
TPA ini memiliki sistem pengolahan limbah cair dan gas yang dikembangkan melalui kerja sama dengan Pemerintah Jepang dalam program Green Sister City.
Selain itu, Kota Surabaya juga mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di TPA Benowo sejak tahun 2012. Fasilitas tersebut kemudian diresmikan pada tahun 2021 dan menjadi PLTSa pertama serta terbesar di Indonesia.
Melalui metode landfill gas power plant, sekitar 600 ton sampah dapat diolah menjadi energi listrik sebesar 2 megawatt. Teknologi ini memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah.
TPA Galuga
TPA Galuga berada di wilayah Kabupaten Bogor dan memiliki luas sekitar 37,5 hektar. Tempat pembuangan ini telah beroperasi lebih dari 30 tahun.
Setiap hari TPA Galuga menerima sekitar 500 ton sampah dari Kota Bogor dan sekitar 600 ton dari Kabupaten Bogor. Dengan demikian total sampah yang masuk mencapai sekitar 1.100 ton per hari.
Tingginya volume sampah membuat berbagai masalah muncul di lokasi ini. Salah satu yang paling sering terjadi adalah longsor timbunan sampah.
Dalam kurun waktu sekitar 25 tahun terakhir, longsor telah terjadi beberapa kali. Salah satu insiden paling serius terjadi pada tahun 2010 ketika longsor menewaskan empat orang dan menyebabkan sejumlah warga mengalami luka.
Selain itu, TPA Galuga juga menghadapi persoalan pencemaran lingkungan. Air lindi dari sampah sempat bocor dan mencemari area perkebunan serta sawah milik warga selama bertahun tahun. Akibatnya banyak lahan pertanian yang menjadi tidak produktif.
TPA Piyungan
TPA Piyungan berada di Kelurahan Sitimulyo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat pembuangan ini mulai beroperasi sejak tahun 1996.
Luas total kawasan TPA Piyungan sekitar 12,5 hektar. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 hektar digunakan sebagai area landfill dan sekitar 2,5 hektar digunakan untuk fasilitas pendukung.
Pada 2022, TPA Piyungan menerima sekitar 700 ton sampah setiap hari. Sampah tersebut berasal dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul.
Sekitar 72 persen dari sampah yang masuk merupakan sampah organik. Keterbatasan luas lahan dan meningkatnya volume sampah membuat kapasitas TPA Piyungan semakin tertekan.
Pada pertengahan tahun 2023, pemerintah daerah bahkan sempat menutup TPA Piyungan sementara. Penutupan dilakukan pada 23 Juli hingga 5 September 2023 untuk melakukan optimalisasi pengelolaan sampah, termasuk pemadatan dan upaya daur ulang.
Penutupan tersebut menimbulkan masalah baru di wilayah Yogyakarta. Banyak depo sampah dan jalan umum dipenuhi tumpukan sampah yang belum terangkut, sehingga menimbulkan bau tidak sedap dan keluhan dari masyarakat.
Tinggalkan Komentar
Komentar