periskop.id - Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali erupsi pada Kamis, 12 Maret 2026, sekitar pukul 01.48 Wita. Letusannya mengeluarkan material panas dan terdengar dentuman cukup keras. Menurut catatan seismograf, getaran erupsi mencapai 30,4 mm dan berlangsung sekitar 44 detik.

Sementara itu, tinggi kolom abu akibat letusan belum dapat dipastikan karena kondisi cuaca yang kurang mendukung pengamatan. Meski demikian, aktivitas erupsi tetap terdeteksi jelas melalui getaran yang tercatat pada alat seismograf dengan amplitudo maksimum 30,4 milimeter.

Sebelumnya, pada Minggu, 8 Maret 2026, Gunung Ile Lewotolok yang tingginya 1.455 meter di atas permukaan laut (mdpl) juga sempat erupsi sekitar pukul 19.44 Wita. Saat itu, gunung memuntahkan abu vulkanik setinggi sekitar 100 meter dari puncaknya.

Lalu kembali erupsi pada Senin, 9 Maret 2026 dari pukul 00.00 hingga 24.00 Wita. Erupsi meluncurkan lava pijar sejauh sekitar 400 meter. Selama periode ini tercatat 34 kali erupsi dengan amplitudo antara 9–27,4 mm dan durasi 33–57 detik.

Selain itu, terdeteksi 162 kali gempa embusan, satu kali tremor nonharmonik, satu kali hybrid atau fase banyak, dan satu kali gempa vulkanik dalam.

Cuaca di puncak Gunung Ile Lewotolok terlihat berawan, mendung, dan sempat hujan. Angin bertiup dari arah timur dengan kecepatan lembut hingga kencang. Suhu udara di sekitar gunung berkisar 24–28° C. Secara visual, puncak gunung masih terlihat jelas dengan tingkat kabut 0-I hingga 0-III, dan asap dari kawah tidak terpantau.

Saat ini, Gunung Ile Lewotolok berada pada Level II atau Waspada. Pihak berwenang mengingatkan warga sekitar dan pendaki untuk tidak memasuki area dalam radius dua kilometer dari pusat erupsi dan menghindari segala aktivitas di sana.

Pemerintah daerah dan warga diimbau untuk selalu berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi di Bandung, Jawa Barat, agar mendapatkan informasi terbaru mengenai aktivitas gunung.

Warga dihimbau untuk menggunakan masker untuk melindungi mulut dan hidung, serta perlengkapan lain seperti pelindung mata dan pakaian panjang guna menghindari gangguan pernapasan dan dampak kesehatan akibat abu vulkanik. Selain itu, tempat penampungan air bersih sebaiknya ditutup agar tidak terkontaminasi abu.