Periskop.id - Permintaan emas global mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan harga emas kini tidak lagi dipicu oleh satu peristiwa besar saja, melainkan didukung oleh basis permintaan yang semakin luas, dalam, dan terinstitusionalisasi.
Melansir American Standard Gold, tren ini terlihat jelas pada 2025 ketika total permintaan emas global, termasuk transaksi di luar bursa atau over-the-counter (OTC), melampaui 5.000 ton dan mencetak rekor baru. Pada saat yang sama, harga emas mencatat puluhan titik tertinggi sepanjang masa.
Perubahan ini menandakan bahwa emas tidak lagi sekadar aset tradisional, melainkan telah menjadi bagian penting dari strategi keuangan global.
Dalam beberapa dekade sebelumnya, permintaan emas banyak bergantung pada sektor perhiasan dan konsumsi masyarakat. Namun kini, struktur permintaan telah berubah secara signifikan.
Faktor yang menjadi penentu bukan hanya seberapa besar permintaan, tetapi juga siapa yang membeli, alasan mereka membeli, dan seberapa tahan permintaan tersebut terhadap perubahan ekonomi global.
Berikut ini adalah beberapa penyebab utama kenaikan harga emas yang dratis dalam kurun 2025 hingga 2026:
1. Bank Sentral Menjadi Pendorong Utama Permintaan Emas
Perubahan paling signifikan dalam siklus emas terjadi pada sektor resmi, terutama bank sentral.
Menurut data World Gold Council (WGC), pembelian emas oleh bank sentral meningkat drastis dari rata-rata 400 hingga 500 ton per tahun sebelum 2022 menjadi lebih dari 1.000 ton per tahun dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2025, pembelian bersih bank sentral mencapai sekitar 863 ton, setelah sebelumnya mencatat tiga tahun berturut turut di atas 1.000 ton.
Permintaan dari bank sentral bersifat struktural karena tidak dipengaruhi fluktuasi harga jangka pendek. Pembelian ini didorong oleh kebutuhan diversifikasi cadangan devisa, perlindungan terhadap risiko sanksi, serta strategi stabilitas ekonomi.
Tren ini juga mulai meluas ke negara negara berkembang. Uganda, misalnya, mulai membeli emas domestik sejak Maret 2026.
2. Investor Dorong Lonjakan Permintaan
Selain bank sentral, sektor investasi juga mengalami pertumbuhan signifikan. Permintaan investasi emas meningkat 84% menjadi sekitar 2.175 ton pada 2025.
Kenaikan ini didorong oleh masuknya investor melalui produk seperti exchange-traded fund (ETF), serta pembelian emas batangan dan koin.
ETF memungkinkan investor memiliki eksposur terhadap emas tanpa harus menyimpan emas fisik. Produk ini diperdagangkan di bursa seperti saham, sehingga lebih mudah diakses oleh investor ritel maupun institusi.
Masuknya investor institusi membuat permintaan emas menjadi lebih stabil karena didorong oleh strategi portofolio jangka panjang, bukan hanya sentimen pasar.
3. Peran Transaksi OTC Memperkuat Permintaan
Selain pasar terbuka, permintaan emas juga diperkuat oleh transaksi OTC, yaitu transaksi yang dilakukan langsung antar pihak tanpa melalui bursa resmi.
Transaksi ini biasanya melibatkan bank besar, bank sentral, dan institusi keuangan, dengan volume yang sangat besar dan tidak selalu transparan.
Keberadaan transaksi OTC menunjukkan bahwa permintaan emas sebenarnya lebih besar dari yang terlihat di pasar publik.
4. Ketidakpastian Global Memperkuat Posisi Emas
Lingkungan global yang penuh risiko juga menjadi faktor penting dalam meningkatnya permintaan emas.
Pada periode 2025 hingga 2026, dunia menghadapi berbagai ketidakpastian seperti konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, serta perubahan kebijakan suku bunga.
Dalam kondisi seperti ini, emas dipandang sebagai:
- pelindung dari risiko geopolitik
- pelindung dari kesalahan kebijakan ekonomi
- alat diversifikasi ketika aset lain bergerak seragam
Ketika ketidakpastian menjadi kondisi yang berlangsung lama, bukan lagi kejadian sementara, permintaan emas cenderung meningkat secara berkelanjutan.
5. Diversifikasi Cadangan Global Semakin Nyata
Perubahan lain yang memperkuat permintaan emas adalah pergeseran dalam pengelolaan cadangan devisa global.
International Monetary Fund (IMF) memperbarui basis data Komposisi Mata Uang Cadangan Devisa Resmi (Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves/COFER) sejak kuartal ketiga 2025 untuk memberikan gambaran yang lebih transparan mengenai komposisi cadangan devisa negara-negara di dunia.
Perubahan ini menunjukkan bahwa banyak negara mulai mengevaluasi ulang strategi penyimpanan cadangan mereka dan tidak lagi hanya bergantung pada mata uang tertentu seperti dolar Amerika Serikat.
Dalam konteks ini, emas menjadi semakin relevan karena:
- tidak merupakan kewajiban pihak lain
- tidak bergantung pada kebijakan negara tertentu
- diakui secara universal sebagai aset jaminan
Apa yang Bisa Disimpulkan?
Permintaan emas juga didukung oleh infrastruktur pasar yang semakin berkembang.
WGC mencatat bahwa emas memiliki likuiditas tinggi di berbagai pasar, termasuk OTC, futures, dan ETF.
Likuiditas yang tinggi memungkinkan transaksi dalam jumlah besar dilakukan dengan biaya yang lebih rendah dan risiko yang lebih kecil. Hal ini mendorong institusi untuk meningkatkan eksposur mereka terhadap emas.
Kenaikan harga emas memang dapat menekan permintaan dari sektor perhiasan. Namun, hal ini tidak lagi berdampak besar terhadap total permintaan.
Permintaan dari sektor investasi dan bank sentral justru meningkat, sehingga menutup penurunan dari sektor konsumsi.
Akibatnya, emas tidak lagi bergantung pada daya beli masyarakat, melainkan lebih ditentukan oleh keputusan strategis institusi dan negara.
Jika sebelumnya emas identik dengan lindung nilai terhadap inflasi, kini alasan pembelian emas menjadi jauh lebih beragam.
Beberapa faktor utama yang mendorong pembelian emas saat ini meliputi:
- lindung nilai terhadap mata uang dan kebijakan
- perlindungan dari risiko geopolitik
- diversifikasi portofolio investasi
- kebutuhan likuiditas dan jaminan
Semakin banyak kelompok yang membeli emas dengan alasan berbeda, semakin stabil pula permintaan emas secara keseluruhan.
Data tahun 2025 menunjukkan bahwa permintaan emas kini memiliki fondasi yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Permintaan tidak lagi bergantung pada satu sektor saja, melainkan berasal dari berbagai pihak, termasuk bank sentral, investor institusi, manajer kekayaan, serta pelaku lindung nilai global.
Kombinasi ini membuat permintaan emas menjadi lebih tahan terhadap perubahan siklus ekonomi.
Dengan kondisi tersebut, emas tidak lagi sekadar mengikuti tren jangka pendek, melainkan menjadi aset strategis dalam sistem keuangan global.
Tinggalkan Komentar
Komentar