Periskop.id — Nama Andrie Yunus menjadi sorotan nasional setelah dirinya menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal di Jakarta Pusat. Insiden yang terjadi pada 12 Maret 2026 itu tidak hanya menyisakan luka serius, tetapi juga memicu perhatian publik terhadap sosok Andrie sebagai aktivis hak asasi manusia (HAM).
Serangan tersebut terjadi usai Andrie mengikuti rekaman podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Dalam perjalanan pulang, ia diserang oleh pelaku bermotor yang menyiramkan cairan kimia berbahaya ke arah tubuhnya. Akibatnya, Andrie mengalami luka bakar hingga 24 persen dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSCM.
Peristiwa ini pun membuat publik bertanya: siapa sebenarnya Andrie Yunus?
Siapa Andrie Yunus?
Andrie Yunus adalah aktivis HAM yang saat ini menjabat sebagai Wakil Koordinator Bidang Eksternal di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Ia dikenal sebagai salah satu aktivis muda yang vokal dalam mengkritisi isu-isu strategis, terutama yang berkaitan dengan reformasi sektor keamanan dan perlindungan kebebasan sipil.
Dalam perannya, Andrie aktif membangun komunikasi publik, menyampaikan sikap organisasi, serta terlibat dalam advokasi kebijakan yang berkaitan dengan demokrasi dan hak asasi manusia. Ia juga kerap tampil dalam diskusi publik, forum akademik, hingga media.
Latar Belakang Pendidikan dan Kepemimpinan
Andrie Yunus lahir di Bogor pada 16 Juni 1998 dan menempuh pendidikan hukum di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera, Jakarta, dengan fokus pada hukum konstitusi.
Sejak masa sekolah, Andrie sudah menunjukkan jiwa kepemimpinan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua OSIS SMA Negeri 1 Cicurug pada periode 2014–2015, lalu melanjutkan perannya sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STHI Jentera pada periode 2018–2019. Pengalaman tersebut membentuk karakter kepemimpinannya dalam dunia advokasi.
Perjalanan Karier dan Advokasi Hukum
Sebelum aktif di KontraS, Andrie Yunus terlebih dahulu berkiprah di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sebagai Asisten Pengabdi Bantuan Hukum (APBH). Ia juga pernah menjalani program magang di LBH Jakarta dan LBH APIK Jakarta, yang fokus pada advokasi hukum berbasis gender.
Ia memperoleh lisensi advokat dari PERADI pada November 2023, yang semakin menguatkan posisinya sebagai praktisi hukum sekaligus aktivis.
Sejak bergabung dengan KontraS pada 2022, Andrie telah menempati sejumlah posisi penting, mulai dari staf Divisi Hukum, Kepala Divisi Hukum, hingga akhirnya dipercaya menjadi Wakil Koordinator Bidang Eksternal sejak Februari 2025.
Dalam perannya, ia terlibat dalam berbagai kegiatan strategis, seperti pendampingan korban pelanggaran HAM, penyusunan laporan investigasi, serta advokasi kebijakan terkait reformasi sektor keamanan.
Aktif Mengawal Isu HAM dan Demokrasi
Andrie Yunus dikenal aktif dalam mengawal berbagai isu sensitif yang berkaitan dengan HAM. Ia terlibat dalam sejumlah laporan investigasi penting, termasuk kasus pembunuhan di luar hukum di Timika, kasus kerangkeng manusia di Langkat, serta penembakan demonstran di Desa Bangkal pada 2023.
Ia juga menjadi salah satu suara kritis dalam penolakan revisi Undang-Undang TNI. Bahkan, pada 2025, Andrie sempat melakukan interupsi dalam rapat tertutup pembahasan RUU tersebut, yang kemudian membuat namanya semakin dikenal publik.
Kronologi Serangan Air Keras
Serangan terhadap Andrie Yunus terjadi di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, setelah ia menyelesaikan rekaman podcast bertema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor YLBHI.
Dalam perjalanan pulang, dua pelaku yang berboncengan sepeda motor mendekatinya dan langsung menyiramkan cairan kimia ke tubuhnya. Cairan tersebut mengenai wajah, mata, dada, dan tangan, bahkan menyebabkan sebagian pakaian korban meleleh.
Serangan ini membuat Andrie mengalami luka bakar serius hingga 24 persen. Polisi kemudian mengungkap bahwa aksi tersebut diduga melibatkan empat orang pelaku yang bekerja sama.
Dugaan Teror Sebelum Penyerangan
Sebelum insiden ini terjadi, Andrie Yunus diketahui telah menerima berbagai bentuk intimidasi. Ia mengaku sempat mendapat telepon dari nomor misterius yang mengatasnamakan kelompok tertentu.
Selain itu, kantor KontraS juga pernah didatangi orang tak dikenal, termasuk individu yang mengaku sebagai jurnalis tanpa janji temu. Bahkan, terdapat laporan adanya pemantauan oleh pihak tertentu di sekitar kantor yang tidak terjangkau CCTV.
Situasi ini memperkuat dugaan bahwa serangan terhadap Andrie berkaitan dengan aktivitas advokasinya yang kritis terhadap kebijakan negara.
Respon Polisi dan DPR
Pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan motif di balik serangan tersebut. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyatakan bahwa proses pendalaman masih berlangsung.
“Saat ini, sedang didalami oleh Sat Reskrim Polres Jakpus, mendalami saksi dan TKP,” ujarnya.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, juga menegaskan bahwa penyidikan tetap berjalan meski laporan resmi korban belum dibuat.
“Benar, ada kejadian demikian, laporan resmi dari korban belum ada, namun kami sedang melakukan penyidikan untuk mengetahui identitas pelaku melalui scientific investigation,” katanya.
Sementara itu, DPR RI turut memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, mendesak agar pelaku dan dalang di balik serangan segera diungkap.
“Saya minta pihak kepolisian segera mengusut tuntas siapa pelaku dan dalang di balik penyerangan ini, ungkap motifnya secara terang,” tegasnya.
Andrie Yunus dan Simbol Aktivis Muda
Bagi generasi muda, sosok Andrie Yunus menjadi representasi aktivis yang berani bersuara dalam isu-isu penting. Ia menunjukkan bahwa anak muda memiliki peran besar dalam menjaga demokrasi dan memperjuangkan keadilan.
Namun, serangan yang dialaminya juga menjadi pengingat bahwa perjuangan tersebut tidak lepas dari risiko serius, terutama di tengah dinamika politik dan sosial yang kompleks.
Tinggalkan Komentar
Komentar