Periskop.id - Kondisi keanekaragaman hayati di Asia Tenggara menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan. Sejumlah data terbaru mengungkap bahwa kawasan ini menjadi salah satu wilayah dengan risiko kepunahan spesies tertinggi di dunia, terutama untuk kelompok hewan vertebrata atau hewan bertulang belakang.
Berdasarkan laporan berjudul “The ASEAN – ASEAN’s Roots and Reefs – Nature’s Strongholds”, Indeks Daftar Merah atau Red List Index per Februari 2020 menunjukkan penurunan keanekaragaman hayati yang terus terjadi secara konsisten di Asia Tenggara. Indeks ini menjadi indikator global untuk mengukur risiko kepunahan spesies dari waktu ke waktu.
Dalam laporan tersebut tersebut dijelaskan bahwa terdapat 154 spesies vertebrata di Asia Tenggara yang berstatus sangat terancam punah atau critically endangered. Kondisi ini semakin diperparah dengan fakta bahwa sekitar 45 persen dari spesies tersebut belum memiliki upaya konservasi yang memadai.
Selain itu, kawasan ini juga menjadi rumah bagi enam dari 20 negara dengan jumlah spesies terancam terbanyak di dunia. Hal ini menegaskan bahwa kawasan Asia Tenggara menjadi titik krusial dalam upaya pelestarian biodiversitas global.
Daftar Spesies Sangat Terancam Punah
Sejumlah spesies ikonik di Asia Tenggara kini berada di ambang kepunahan akibat tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.
Salah satunya adalah Orangutan Sumatra yang memiliki populasi sekitar 14.000 individu. Spesies ini terancam akibat hilangnya habitat yang sebagian besar disebabkan oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit.
Kemudian Badak Jawa yang kini hanya tersisa sekitar 76 individu dan hidup terbatas di kawasan Ujung Kulon, Indonesia.
Spesies lain seperti Harimau Sumatra juga berada dalam kondisi kritis dengan populasi kurang dari 400 ekor di alam liar. Ancaman utama berasal dari deforestasi dan perburuan ilegal.
Selain itu, Pangolin menjadi salah satu mamalia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia, diburu untuk konsumsi dan pengobatan tradisional.
Buaya Siam diperkirakan hanya menyisakan kurang dari 1.000 individu di alam liar. Sementara itu, Elang Filipina yang merupakan salah satu elang terbesar di dunia, kini hanya memiliki sekitar 677 pasangan berkembang biak atau sekitar 1.354 individu dewasa.
Spesies tumbuhan juga tidak luput dari ancaman, seperti Red Lauan yang jumlah individunya terus menurun akibat penebangan ilegal dan aktivitas pertanian.
Di ekosistem laut, Penyu Sisik mengalami penurunan populasi lebih dari 80 persen dalam satu abad terakhir, dengan kurang dari 25.000 betina yang bertelur secara global.
Sementara itu, spesies unik seperti Kepiting Air Tawar Singapura terancam akibat kerusakan habitat dan ekspansi wilayah urban.
Burung pemangsa seperti Burung Hering Hitam India juga mengalami penurunan drastis dengan populasi kurang dari 10.000 individu dewasa akibat keracunan dari obat hewan ternak.
Di sisi lain, Paphiopedilum Vietnam menjadi salah satu spesies anggrek langka dengan kurang dari 50 individu dewasa tersisa karena pengambilan berlebihan dari alam.
Selain itu, Beruang Madu yang merupakan beruang terkecil di dunia juga mengalami penurunan populasi lebih dari 30 persen dalam tiga generasi terakhir.
Spesies dengan Status Terancam
Selain kategori sangat terancam punah, terdapat pula spesies dengan status endangered atau terancam.
Orangutan Kalimantan mengalami penurunan populasi akibat pembalakan hutan dan alih fungsi lahan untuk pertanian.
Sementara itu, Lumba-lumba Irrawaddy memiliki subpopulasi di Sungai Mekong yang kini tersisa kurang dari 100 individu.
Empat Faktor Utama Penyebab Kepunahan
Ancaman terhadap keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dipicu oleh sejumlah faktor utama yang saling berkaitan.
Pertama, kehilangan dan fragmentasi habitat akibat deforestasi untuk pertanian, pembalakan, pertambangan, serta urbanisasi. Asia Tenggara bahkan tercatat memiliki laju deforestasi tertinggi di antara kawasan tropis besar di dunia.
Kedua, perdagangan dan perburuan satwa liar yang terus meningkat. Permintaan terhadap makanan mewah, obat tradisional, trofi, serta hewan peliharaan eksotis mendorong eksploitasi besar-besaran terhadap spesies liar.
Ketiga, polusi dan penyebaran spesies invasif. Sampah plastik laut, pencemaran kimia, serta masuknya spesies asing menjadi ancaman serius bagi ekosistem darat, air tawar, dan laut.
Keempat, perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan suhu, permukaan laut, serta perubahan pola hujan. Dampaknya dirasakan langsung oleh ekosistem penting seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan wilayah pegunungan.
Tinggalkan Komentar
Komentar