periskop.id - Di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah, nama Bagher Ghalibaf kembali mencuat di hadapan publik global setelah muncul dugaan bahwa ia menjalin komunikasi dengan Amerika Serikat. Sejumlah laporan dari media Barat menyebutkan bahwa ia melakukan upaya diplomasi secara diam-diam dengan pihak Amerika.

Dengan latar belakang militer serta pengaruh besar dalam struktur kekuasaan di Iran, Bagher Ghalibaf menjadi salah satu pejabat publik yang cukup diperhitungkan. Perannya dinilai strategis sehingga ia kerap dianggap sebagai tokoh kunci dalam dinamika geopolitik saat ini.

Mengenal Sosok Bagher Ghalibaf

Mohammad Bagher Ghalibaf lahir pada 1961 di Torqabeh. Kini, di usia 64 tahun, ia dikenal sebagai salah satu tokoh berpengaruh di Iran dengan latar belakang kuat di bidang militer dan politik. Ia juga dikenal sebagai sosok garis keras yang berpegang pada ideologi revolusioner, sejalan dengan rezim Iran saat ini dan pemimpin tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei.

Ghalibaf memulai kariernya di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada usia 19 tahun. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Angkatan Udara IRGC pada periode 1997–2000, serta memimpin pasukan Basij dan terlibat dalam berbagai operasi militer.

Setelah itu, ia beralih ke dunia pemerintahan sipil. Ia sempat menjabat sebagai Kepala Kepolisian Nasional sebelum kemudian menjadi Wali Kota Teheran pada 2007 hingga 2017.

Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran sejak 2020. Selain aktif di dunia politik, Ghalibaf juga memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pandangan politiknya kepada publik, sebagaimana yang juga dilakukan oleh pendahulunya, Ali Larijani.

Ambisinya terhadap kekuasaan terlihat dari beberapa kali pencalonannya sebagai presiden, yaitu pada 2005, 2013, 2017, dan 2024. Pada pencalonan tahun 2005, ia mencoba menarik dukungan dari kalangan moderat dengan menyebut dirinya sebagai versi Islam dari Reza Shah.

Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Ia justru kehilangan dukungan dari kelompok konservatif dan hanya menempati peringkat keempat dalam pemilihan tersebut. Meski demikian, pencalonan itu turut meningkatkan popularitasnya hingga akhirnya terpilih sebagai Wali Kota Teheran.

Kontroversi Bagher Ghalibaf

Ghalibaf diketahui memiliki peran penting dalam penindakan terhadap aksi protes mahasiswa pada 1999. Ia menunjukkan sikap tegas dengan menentang demonstrasi tersebut, bahkan turut menandatangani surat bersama 24 pemimpin IRGC lainnya yang berisi desakan kepada presiden saat itu, Mohammad Khatami, untuk ikut campur.

Selain itu, ia juga pernah terseret kontroversi ketika istri, putri, dan menantunya kedapatan membawa sekitar 300 kilogram barang usai berbelanja di Turki. Meski demikian, barang tersebut disebut sebagai perlengkapan bayi untuk anak mereka yang baru lahir.

Ghalibaf juga sempat menghadapi tuduhan korupsi. Salah satunya terkait dugaan skandal sebuah perusahaan yang disebut menggelapkan dana sekitar 3 miliar dolar AS dari Teheran selama masa jabatannya sebagai Wali Kota Teheran pada 2005–2017.

Selain itu, ia juga dituduh melakukan transfer lebih dari 70.000 meter persegi tanah publik dan penyaluran dana bantuan dalam jumlah besar ke Yayasan Amal Imam Reza yang dimiliki oleh istrinya.