Periskop.id - Di berbagai belahan dunia, penggunaan air tawar telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) edisi tahun 2022 yang dihimpun oleh Visual Capitalist, menunjukkan bahwa banyak negara telah mengonsumsi air jauh melampaui kemampuan alam untuk memulihkannya.

Tingkat tekanan air ini diukur melalui perbandingan antara pengambilan air tawar dengan total sumber daya air terbarukan yang tersedia. 

Negara dengan skor di atas 100% berarti menggunakan lebih banyak air daripada yang tersedia secara alami setiap tahunnya. Kondisi ini memaksa mereka bergantung pada pengurasan air tanah dalam atau teknologi desalinasi yang mahal untuk menutup kekurangan tersebut.

Daftar Negara dengan Krisis Air Tertinggi di Dunia 

Negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara mendominasi daftar ini karena iklim yang gersang serta sektor pertanian dan manufaktur yang intensif air. 

Kuwait memimpin dengan angka yang sangat fantastis, yakni menggunakan 38 kali lipat dari pasokan air terbarukannya. 

Berikut adalah rincian tingkat tekanan air di 15 negara tertinggi:

PeringkatNegaraTekanan Air (%)
1Kuwait3.850,5
2Uni Emirat Arab1.509,9
3Arab Saudi974,2
4Libya817,1
5Qatar431,0
6Yaman169,8
7Aljazair144,8
8Mesir141,2
9Turkmenistan135,2
10Bahrain133,7
11Israel129,7
12Suriah124,4
13Uzbekistan123,0
14Sudan118,7
15Oman116,7
56Indonesia29,7

Ketergantungan pada Sumber Air Buatan dan Teknologi

Negara-negara yang telah melampaui "anggaran" air alaminya terpaksa beralih ke sumber non-terbarukan. 

Salah satu metode yang paling umum adalah eksploitasi air tanah fosil, yaitu mengambil air dari lapisan bumi yang sangat dalam yang tidak bisa terisi kembali oleh hujan.

Selain itu, negara-negara kering seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi menjadi pelopor teknologi desalinasi, yaitu proses mengubah air laut menjadi air tawar layak konsumsi. 

Meskipun membutuhkan energi besar dan biaya tinggi, inovasi teknologi terbaru mulai membuat metode ini lebih ekonomis dan menjadi daya tarik investasi strategis di masa depan.

Menelisik Posisi Indonesia

Indonesia berada di peringkat 56 dunia dengan tingkat tekanan air sebesar 29,7%. Angka ini secara teknis menempatkan Indonesia dalam kategori tingkat tekanan air rendah hingga moderat (di bawah ambang batas kritis 100%).

Posisi relatif Indonesia yang cukup baik ini didorong oleh faktor geografis sebagai negara tropis dengan curah hujan tinggi yang secara alami mengisi kembali sumber daya air terbarukan. 

Namun, angka 29,7% ini adalah rata-rata nasional yang bisa menipu jika tidak dilihat lebih detail. Penjelasan kredibel mengenai posisi Indonesia mencakup dua tantangan besar:

  1. Ketimpangan Spasial: Meskipun secara nasional air melimpah, Pulau Jawa yang dihuni lebih dari 50% penduduk Indonesia justru mengalami tekanan air yang jauh lebih tinggi dibandingkan Papua atau Kalimantan. Wilayah perkotaan besar seperti Jakarta menghadapi risiko intrusi air laut akibat pengambilan air tanah yang berlebihan.
  2. Kualitas vs Kuantitas: Masalah utama Indonesia saat ini bukan pada jumlah total air (kuantitas), melainkan pada akses terhadap air bersih (kualitas). Pencemaran sungai dan infrastruktur distribusi yang belum merata membuat air yang tersedia secara alami tidak selalu dapat dikonsumsi langsung oleh masyarakat.