periskop.id - Nama Dwi Yoga Ambal mendadak jadi perbincangan publik usai terseret dalam operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sosok yang dikenal sebagai ajudan Bupati Gatut Sunu Wibowo ini kini ikut ditetapkan sebagai tersangka.

Saat ini, Dwi Yoga Ambal bersama Gatut Sunu Wibowo sudah ditahan di Rutan KPK sejak Sabtu (11/4/2026). Nama Yoga pun langsung jadi sorotan publik karena diduga punya peran penting sebagai orang kepercayaan sekaligus operator utama sang bupati dalam kasus tersebut.

Siapa sebenarnya Dwi Yoga Ambal?

Profil Dwi Yoga Ambal

Dwi Yoga Ambal diketahui menyelesaikan pendidikan di MAN 2 Tulungagung sebelum melanjutkan ke sekolah kedinasan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri angkatan XXV.

Kariernya sebagai ASN dimulai di wilayah Jawa Tengah. Di sana, ia juga sempat dipercaya menjadi ajudan di Kabupaten Rembang. Yoga kemudian pindah tugas ke Pemkab Tulungagung pada pertengahan 2023 dan ditempatkan di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim).

Perjalanan kariernya terbilang cukup cepat berkembang, terutama setelah Gatut Sunu Wibowo resmi dilantik sebagai bupati pada Februari 2025. Saat itu, Yoga dipilih langsung untuk menjadi ajudan pribadi.

Di luar tugasnya sebagai ASN, Dwi Yoga Ambal juga diketahui aktif di bidang pendidikan. Ia menjabat sebagai direktur sebuah bimbingan belajar (bimbel) kedinasan bernama Catalyst.

Bimbel ini fokus membantu para siswa yang ingin lolos seleksi masuk TNI, Polri, hingga berbagai sekolah kedinasan lainnya melalui program pelatihan dan pembinaan.

Pengaruh Kuat di Internal dan Sorotan Sikap

Selama menjalankan perannya, Dwi Yoga Ambal disebut memiliki pengaruh yang cukup besar di lingkungan pemerintahan. Beberapa kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemkab Tulungagung menyebut, ia kerap menjadi perantara yang menjalankan arahan dari Gatut Sunu Wibowo.

Dalam sejumlah keterangan, Yoga disebut sering turun langsung saat ada permintaan tertentu dari bupati kepada para kepala dinas. Hal ini membuat posisinya terlihat cukup dominan, meski secara jabatan ia masih berada di level staf.

Salah satu pejabat OPD yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sikap Yoga dinilai kurang menghargai pimpinan dinas. Ia bahkan disebut kerap bersikap seolah memiliki kedudukan lebih tinggi.

Sumber tersebut juga menambahkan, gaya komunikasi Yoga dianggap cukup keras hingga terkesan arogan. Ia bahkan disebut pernah menyamakan perannya dengan Teddy Indra Wijaya karena merasa berada di posisi strategis sebagai orang kepercayaan.

Sikap inilah yang membuat sebagian pejabat OPD merasa kurang nyaman. Tak sedikit yang akhirnya memberikan respons negatif terhadapnya, terutama setelah statusnya ditetapkan sebagai tersangka.

Sempat Terjadi Ketegangan Saat Penangkapan

Yoga disebut sempat mencoba menghalangi petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang hendak menangkap Gatut Sunu di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bongso.

Menurut cerita dari kalangan Satpol PP Tulungagung, situasi saat itu sempat memanas dan terjadi kontak fisik antara Yoga dengan tim KPK. Yoga berusaha melindungi dan menutupi keberadaan Gatut Sunu yang saat itu bersembunyi di area pendapa.

Seorang sumber internal menyebutkan, Yoga sempat diamankan oleh petugas dan ditekan agar tidak melawan. Tak lama kemudian, tim KPK berhasil menemukan Gatut Sunu yang bersembunyi di dalam mobil di garasi pendapa.

Setelah diamankan, Gatut Sunu langsung dibawa ke Polres Sidoarjo untuk menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK. Sementara itu, sejumlah pejabat dari Pemkab Tulungagung diperiksa di Mapolres Tulungagung.

Pada akhirnya, baik Gatut Sunu maupun Yoga resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan KPK.