periskop.id - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melakukan perombakan jajaran manajemen melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang berlangsung pada Rabu (13/5. Perubahan ini mencakup posisi direksi dan dewan komisaris sebagai bagian dari langkah lanjutan transformasi perusahaan.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menegaskan bahwa restrukturisasi pengurus dilakukan untuk memperkuat akselerasi pemulihan kinerja perseroan ke depan.

"Dengan susunan manajemen baru ini diharapkan akan mendukung langkah akselerasi perseroan untuk menuju fase turnaround yang semakin solid, serta menjadikan Garuda Indonesia sebagai national flag carrier yang berdaya saing dan membawa kontribusi terbaiknya bagi bangsa dan negara," ujar Glenny dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (15/5).

Dalam keputusan RUPST tersebut, pemegang saham menyetujui penunjukan Frans Dicky Tamara sebagai Direktur Human Capital & Corporate Service. Sebelumnya, Frans menjabat sebagai Komisaris Garuda Indonesia sejak 15 Oktober 2025. Ia menggantikan Eksitarino Irianto yang diberhentikan dengan hormat dari posisi tersebut.

Selain itu, RUPST juga mengangkat Sugito Anjasmoro sebagai Komisaris Perseroan. Bersamaan dengan itu, Frans Dicky Tamara resmi dilepas dari jabatannya sebagai Komisaris seiring penunjukan barunya di jajaran direksi.

Susunan terbaru pengurus Garuda Indonesia hasil RUPST:

Dewan Komisaris:

  • Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen: Fadjar Prasetyo
  • Komisaris Independen: Mawardi Yahya
  • Komisaris: Chairal Tanjung
  • Komisaris: Sugito Anjasmoro

Direksi:

  • Direktur Utama: Glenny Kairupan
  • Wakil Direktur Utama: Thomas Sugiarto Oentoro
  • Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko: Balagopal Kunduvara
  • Direktur Operasi: Dani Haikal Iriawan
  • Direktur Teknik: Mukhtaris
  • Direktur Niaga: Reza Aulia Hakim
  • Direktur Human Capital & Corporate Service: Frans Dicky Tamara
  • Direktur Transformasi: Neil Raymond Mills

 

Selain perubahan manajemen, rapat yang dihadiri oleh pemegang 384,27 miliar saham atau setara 94,39% dari total saham tersebut turut membahas sejumlah agenda lain, termasuk pengesahan laporan tahunan dan laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025, laporan pengawasan dewan komisaris, hingga laporan program pendanaan usaha mikro dan usaha kecil (PUMK).

Selain itu, pemegang saham juga menyetujui penunjukan akuntan publik untuk audit laporan keuangan tahun buku 2026, serta memberikan pelimpahan kewenangan terkait persetujuan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026–2030 dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2027.

Dari sisi kinerja, Garuda Indonesia Group mencatat pendapatan usaha konsolidasian sebesar USD 762,35 juta pada kuartal I 2026, tumbuh 5,36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan dari penerbangan berjadwal menjadi penopang utama dengan kontribusi USD 648,10 juta atau meningkat 7,36%.

Di sisi lain, perseroan juga berhasil menekan rugi bersih hingga sekitar 45,2% menjadi USD 41,62 juta secara tahunan.

Glenny menilai capaian tersebut menjadi indikasi awal dari perbaikan fundamental bisnis yang tengah dijalankan perusahaan.

“Pertumbuhan trafik penumpang, peningkatan kapasitas penerbangan, serta perbaikan kinerja keuangan pada Kuartal I 2026 menunjukkan bahwa langkah transformasi dan penguatan fundamental bisnis yang dijalankan perusahaan mulai menunjukkan progres positif secara bertahap,” katanya.

Ia menambahkan, fokus utama perseroan saat ini diarahkan pada penguatan fundamental melalui peningkatan operational excellence, disiplin biaya, keandalan layanan, optimalisasi jaringan penerbangan, serta percepatan transformasi digital.