Periskop.id - McDonald's mencatat perlambatan penjualan di Amerika Serikat pada kuartal II 2026. Perusahaan gagal memenuhi ekspektasi pertumbuhan penjualan meski sudah memangkas harga demi menjaring konsumen berpenghasilan rendah.
CEO McDonald's Chris Kempczinski menjelaskan, ketidakpastian ekonomi makro turut menekan pengeluaran konsumen AS. Ia menyoroti peluang perbaikan performa di pasar domestik yang selama ini jadi andalan utama perusahaan.
"Meskipun strategi kami berfokus pada pasar global, kami melihat peluang untuk meningkatkan standar di AS dan mempercepat kinerja di pasar terbesar kami," kata Kempczinski seperti dikutip Reuters, Rabu (5/8).
Penjualan McDonald's di AS pada kuartal tersebut hanya tumbuh 0,8%, di bawah proyeksi analis sebesar 1,06%. Data itu dihimpun oleh LSEG dan menunjukkan penurunan tajam dibanding pertumbuhan 2,5% pada periode setahun sebelumnya.
Kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar disebut membuat konsumen berpenghasilan rendah punya lebih sedikit uang untuk makan di luar. Kelompok ini merupakan basis pelanggan utama McDonald's selama ini.
Kempczinski sempat mengingatkan pada Mei lalu bahwa ketidakpastian ekonomi, termasuk kekhawatiran terkait konflik Iran, ikut merugikan belanja konsumen. Perusahaan pun mengandalkan strategi keterjangkauan harga dan promosi untuk menahan penurunan pangsa pasar.
Sejumlah inisiatif digulirkan McDonald's, mulai dari platform McValue yang diperbarui, menu di bawah US$3, penawaran sarapan berdiskon, hingga dorongan minuman khusus seperti minuman penyegar dan soda spesial.
Upaya tersebut belum cukup mengangkat permintaan yang masih lesu. McDonald's juga menghadapi perbandingan berat dengan tahun lalu, saat promosi makanan bertema Minecraft dan menu Snack Wrap sukses mendongkrak kunjungan pelanggan.
Secara global, penjualan McDonald's tumbuh 1,3%, melambat dari 3,8% pada tahun sebelumnya. Segmen pasar internasional yang mencakup negara-negara besar di Eropa naik 1,5%, turun dari 4% pada periode yang sama tahun lalu.
Analis memperkirakan pelemahan permintaan di kawasan tersebut dipicu biaya energi yang lebih tinggi dan gelombang panas yang membatasi pengeluaran untuk makan di luar.
McDonald's juga menunjuk Skye Anderson untuk memimpin bisnis AS, menggantikan Joe Erlinger yang meninggalkan perusahaan setelah lebih dari dua dekade berkarier di sana.
Di tengah tekanan penjualan, laba bersih McDonald's pada kuartal II 2026 justru naik 5% menjadi US$2,36 miliar, setara US$3,38 per saham. Angka itu naik dari US$3,19 per saham pada periode setahun sebelumnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar