periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,04% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal III 2025. Capaian ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan nasional masih terjaga di tengah dinamika global dan ketidakpastian ekonomi yang belum mereda.
Namun, angka tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membawa ekonomi nasional menuju target ambisius di level 6% hingga 8% dalam waktu dekat. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pertumbuhan ekonomi yang dicapai saat ini masih belum memadai secara struktural.
Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef, Ahmad Hery Firdaus, menjelaskan bahwa perbaikan di beberapa sektor belum mampu mendorong peningkatan signifikan dalam daya saing dan penyerapan tenaga kerja.
“Dengan kondisi sektoral saat ini, target 6% pun belum dapat tercapai. Kenapa? Karena masih ada masalah klasik yang sulit untuk diselesaikan, kemudian juga terjadi kerentanan pada beberapa sisi,” ujar Ahmad dalam acara Tanggapan Atas Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2025, Kamis (6/11).
Ahmad menyoroti bahwa sektor industri pengolahan memang menjadi penyumbang besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), namun kontribusinya belum diiringi dengan peningkatan serapan tenaga kerja. Berdasarkan data yang dia paparkan, tingkat tenaga kerja di sektor industri pengolahan masih stagnan di kisaran 3,6% dan cenderung tidak mengalami pertumbuhan berarti dari tahun ke tahun.
“Meskipun industri pengolahan, katakanlah sudah meningkat tahun di 2018 hingga 2019, tenaga kerjanya masih segitu-gitu aja bahkan masih menumpuk di sektor pertanian,” tuturnya.
Sementara itu, sektor pertanian yang hanya berkontribusi sekitar 14,3% terhadap PDB nasional masih menjadi penopang utama bagi sebagian besar tenaga kerja. Kondisi ini menandakan produktivitas per pekerja di sektor tersebut masih rendah, yang pada akhirnya berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah pedesaan.
Ahmad menilai, rendahnya produktivitas di sektor pertanian menjadi salah satu penyebab utama kemiskinan yang terkonsentrasi di daerah-daerah tertentu. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan peralihan tenaga kerja menuju sektor bernilai tambah tinggi menjadi kunci agar perekonomian Indonesia dapat tumbuh lebih cepat dan merata.
Ia menegaskan bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di kisaran 6% hingga 8%, pemerintah perlu lebih serius menyelesaikan persoalan mendasar di sektor ketenagakerjaan. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tidak cukup hanya bertumpu pada kinerja makro, tetapi juga harus ditopang oleh transformasi struktural di lapangan kerja dan produktivitas sektor riil.
“Permasalahan seperti ini harus diselesaikan terlebih dahulu, terutama terkait tenaga kerja agar lebih adaptif terhadap perkembangan sektor industri,” kata Ahmad.
Tinggalkan Komentar
Komentar