periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengapresiasi tingginya kemampuan puluhan pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang memiliki keahlian khusus membaca hasil pemindaian atau scan mesin X-ray pada kontainer, sebuah skill langka yang membutuhkan ketelitian ekstra.
"Jadi teman-teman dia sudah punya keahlian khusus tahu barangnya apa. Kalau kita cuma lihatnya bertumpuk-tumpuk," kata Purbaya saat menyaksikan demonstrasi mesin X-ray di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (12/12).
Purbaya menilai kompetensi membaca citra digital ini tidak dimiliki sembarang orang. Dibutuhkan pengalaman bertahun-tahun serta jam terbang tinggi untuk bisa mengidentifikasi jenis barang hanya dari tampilan visual X-ray.
Dalam kunjungan lapangan tersebut, Purbaya sempat berdialog langsung dengan salah satu petugas. Sang petugas mengaku telah mengasah kemampuan analisis visual ini selama tiga tahun.
Mendengar pengakuan itu, Purbaya lantas membuat analogi menarik. Ia menyamakan kepekaan dan insting para analis X-ray ini layaknya "anjing pelacak" yang sangat terlatih, sebuah kemampuan yang sulit diduplikasi dalam waktu singkat.
"Sudah tiga tahun, ya gitulah daya penciumannya kuat sekali. Jadi saya pertama juga heran, 'tahu dari mana lu?' Kami sudah berlatih bertahun-tahun," ujar Purbaya menirukan percakapannya.
Proses kerja para analis ini melibatkan pembandingan cermat antara gambar hasil pemindaian dengan data manifest barang yang dilaporkan. Tujuannya memastikan kecocokan isi kontainer sekaligus mendeteksi potensi penyelundupan atau pelanggaran kepabeanan.
Menariknya, keahlian manusia ini kini mendapat dukungan teknologi canggih. Purbaya menyebut integrasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membantu mempercepat dan meningkatkan akurasi pemeriksaan.
"Ini gambarnya, barangnya apa, jadi tinggal dibandingkan dengan data-data yang dimasukkan betul apa salah. Dan sekarang mereka juga dibantu oleh AI juga jadi kerjanya cepat," tambahnya.
Berdasarkan laporan di lapangan, terdapat sekitar 60 personel Bea Cukai yang kini memegang peran vital sebagai analis X-ray berkemampuan tinggi. Mereka menjadi garda terdepan dalam pengawasan arus barang masuk dan keluar.
"Jadi kita punya 60 orang yang matanya tajam. Ini saya juga heran. Jadi kita sudah melatih cukup banyak orang, tadi sudah bilang 60 orang ya. Yang punya kemampuan seperti itulah, kalau ada anjing pelacak yang jago. Itu susah melatihnya," jelasnya.
Menyadari vitalnya peran ini, Purbaya menegaskan pentingnya manajemen sumber daya manusia (SDM) yang baik. Ia meminta jajaran DJBC menjaga dan mempertahankan aset SDM ini.
Mencetak tenaga ahli dengan spesifikasi khusus seperti analis X-ray bukan perkara mudah. Proses regenerasi membutuhkan waktu panjang dan biaya pelatihan yang tidak sedikit.
"Yang itu yang mesti kita maintain dan kita jaga. Karena kalau membangun yang baru mungkin nggak segampang itu. Jadi kita luruskan aja semuanya. Jadi langkah kita itu Dirjen juga clear. Komitmen yang terbaiknya teman-teman Bea Cukai juga sama," tutup Purbaya.
Tinggalkan Komentar
Komentar