periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor di tiga provinsi Sumatera terus bertambah hingga mendekati angka seribu, tepatnya 995 jiwa.

Data terbaru yang dirilis melalui laman resmi BNPB per Sabtu (13/12) pukul 08.25 WIB mencatat dampak masif bencana ini. Selain 995 korban tewas, terdapat 226 orang hilang serta 5.400 warga mengalami luka-luka.

Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan tingkat fatalitas tertinggi. BNPB mencatat 411 korban jiwa di wilayah ini, disusul Sumatera Utara (Sumut) dengan 343 kematian, dan Sumatera Barat (Sumbar) sebanyak 241 jiwa.

Sebaran korban meninggal dunia terkonsentrasi di beberapa titik terparah. Kabupaten Agam di Sumbar mencatatkan angka kematian tertinggi dalam satu wilayah, yakni 184 jiwa.

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Aceh Utara yang mencatat 154 korban tewas. Sementara itu, Kabupaten Tapanuli Tengah menjadi wilayah paling mematikan di Sumatera Utara dengan 111 korban meninggal dunia.

Krisis kemanusiaan terlihat dari lonjakan jumlah pengungsi, khususnya di Aceh. Kabupaten Aceh Tamiang menampung pengungsi terbanyak mencapai 252.600 jiwa.

Angka pengungsian besar juga tercatat di Aceh Timur dengan 238.500 jiwa, serta Aceh Utara yang menampung 153.500 warga terdampak.

Bencana yang melanda 52 kabupaten/kota ini turut meluluhlantakkan sektor perumahan. BNPB menginventarisasi sedikitnya 158.000 unit rumah warga mengalami kerusakan.

Kerusakan infrastruktur fasilitas umum juga sangat signifikan. Total lebih dari 1.200 unit bangunan vital terdampak, meliputi 581 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 290 gedung perkantoran, 219 fasilitas kesehatan, dan 145 jembatan putus.

Aceh kembali mencatatkan kerusakan infrastruktur terparah. Provinsi ini kehilangan fungsi 305 fasilitas pendidikan, 261 kantor pemerintahan, 210 rumah ibadah, 153 fasilitas kesehatan, dan 36 jembatan.

Di Sumatera Barat, kerusakan infrastruktur didominasi sektor pendidikan dengan 216 unit terdampak. Selain itu, 205 rumah ibadah, 65 fasilitas kesehatan, 46 jembatan, dan 29 gedung kantor turut rusak.

Sementara itu, dampak fisik di Sumatera Utara meliputi kerusakan pada 63 jembatan, 60 fasilitas pendidikan, 19 rumah ibadah, dan satu fasilitas kesehatan.