periskop.id - Kementerian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) mengungkapkan adanya disparitas signifikan antara data ekspor China dan data impor Indonesia pada sejumlah produk tekstil dan pakaian jadi.
Berdasarkan data UN Comtrade 2025 yang diolah Kementerian UMKM, selisih paling mencolok terlihat pada beberapa HS Code pakaian jadi dalam periode 2013 hingga 2024.
"Yang biru ini (menunjuk grafik) ekspor China, sedangkan yang merah (menunjuk grafik) impor Indonesia. Jadi yang merah ini tercatat di Indonesia, sementara yang biru tercatat sebagai ekspor di China," ujar Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam acara Diskusi Media ForwaUMKM, Jakarta, Jumat (27/2).
Maman merinci, pada produk hijab dan syal di tahun 2024, nilai ekspor China ke Indonesia tercatat sekitar US$9,0 juta. Sementara impor yang tercatat di Indonesia justru negatif sekitar minus US$0,6 juta, sehingga terdapat gap sekitar US$9,6 juta.
"Hijab, lihat ini. Yang merah (menunjuk grafik) dari tahun 2013 sampai 2024 tercatat seperti ini. Hijab kita yang tercatat impor di sini, sementara ekspor di China selalu di atas. Artinya sejak 2013 ada gap yang tidak tercatat," tegasnya.
Untuk pakaian bayi, ekspor China tercatat sekitar US$4,2 juta, sedangkan impor Indonesia sekitar US$2,7 juta, dengan selisih sekitar US$1,5 juta.
"Pakaian bayi, yang merah ini tercatat impor di kita, sedangkan yang biru tercatat ekspor di China. Jadi ada gap yang cukup besar," jelasnya.
Selanjutnya, produk korset dan bra: ekspor China mencapai sekitar US$83,2 juta, sementara impor Indonesia tercatat sekitar US$28,8 juta, sehingga muncul gap sekitar US$54,4 juta.
Produk pakaian dalam wanita: ekspor China sebesar US$48,5 juta, sementara impor Indonesia sekitar US$13,9 juta, menghasilkan selisih sekitar US$34,6 juta.
Celana dalam pria: ekspor China tercatat US$16,2 juta, sedangkan impor Indonesia sekitar US$4,6 juta, dengan gap sekitar US$11,6 juta. Untuk sepatu kain, ekspor China mencapai sekitar US$157,2 juta, sedangkan impor Indonesia tercatat sekitar US$112,4 juta, sehingga terdapat selisih sekitar US$44,8 juta.
"Kalau sepatu relatif tetap ada gap, tapi lebih tipis. Tidak separah produk-produk lain karena perkembangan sneakers dan brand lokal distro sudah mulai mampu bersaing," terang Maman.
Produk kaus/T-shirt tahun 2024: ekspor China ke Indonesia tercatat sekitar US$61,7 juta, sementara impor Indonesia sekitar US$20,4 juta.
Gamis dan rok wanita: ekspor China sekitar US$74,2 juta, sementara impor Indonesia tercatat sekitar US$18,8 juta. Celana dan jas pria: ekspor China tercatat sekitar US$30,0 juta, sedangkan impor Indonesia hanya sekitar US$8,2 juta. Terdapat selisih sekitar US$21,8 juta.
Produk tekstil lain seperti kemeja pria: ekspor China sekitar US$3,4 juta, sementara impor Indonesia sekitar US$3,8 juta. Blus wanita: ekspor China mencapai sekitar US$10,6 juta, sementara impor Indonesia hanya sekitar US$5,2 juta.
Maman menilai selisih tersebut mengindikasikan adanya ketidaksesuaian pencatatan perdagangan, yang diduga berkaitan dengan praktik under invoicing maupun barang masuk yang tidak tercatat secara penuh.
"Jadi ini kondisi gambaran yang tercatat di informasi kita. Pertanyaannya, bagaimana cara memperkuat produk lokal agar mampu bersaing? Kalau tidak, kita justru saling melemahkan," tutup Maman.
Tinggalkan Komentar
Komentar