periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin, 4 Mei 2026, seiring penguatan dolar AS yang dipicu meningkatnya tensi geopolitik global serta sentimen dari Amerika Serikat. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mencatat, mata uang rupiah ditutup melemah 57 poin ke level Rp17.394 dari sebelumnya Rp17.353, bahkan sempat melemah hingga 60 poin pada perdagangan hari ini.
“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (4/5).
Penguatan dolar AS terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memulai upaya pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Langkah ini dinilai pasar sebagai sinyal meningkatnya keterlibatan AS di kawasan Timur Tengah, yang mendorong permintaan terhadap aset safe haven.
Selain itu, eskalasi konflik di Eropa Timur juga menambah tekanan. Ukraina melancarkan serangan drone ke sejumlah target strategis Rusia, termasuk pelabuhan minyak di Laut Baltik, yang memperburuk ketidakpastian global.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari data neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat surplus. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus Maret 2026 sebesar US$3,32 miliar, meningkat dari Februari yang sebesar US$1,27 miliar.
Surplus tersebut ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas, khususnya komoditas minyak dan lemak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari–Maret 2026 mencatat surplus US$5,55 miliar.
Namun demikian, tekanan muncul dari sektor manufaktur. Data PMI Indonesia yang dirilis S&P Global menunjukkan kontraksi ke level 49,1 pada April 2026, menandai pelemahan aktivitas industri setelah sebelumnya berada dalam fase ekspansi.
Tinggalkan Komentar
Komentar