periskop.id - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah tengah merancang skenario darurat menekan tingkat konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Langkah penghematan radikal ini sengaja disiapkan merespons ancaman krisis energi global akibat melebarnya perang di Timur Tengah.

"Pertama kita harus turunkan konsumsi," kata Presiden Prabowo saat sesi dialog di Jakarta, Kamis (19/3).

Eskalasi konflik bersenjata tersebut membuat harga minyak mentah membayangi level seratus dolar Amerika Serikat per barel. Situasi mendesak memaksa negara segera menyusun pedoman efisiensi energi secara massal.

"Kita bisa turunkan konsumsi," ungkapnya.

Opsi pertama menyasar pemangkasan jadwal operasional perkantoran instansi pemerintah maupun swasta. Kepala negara secara serius mempertimbangkan pemberlakuan sistem empat hari kerja dalam sepekan.

"Lagi mikir hari kerja jadi empat," paparnya.

Kebijakan pemotongan hari kerja merujuk pada langkah serupa di beberapa negara Asia. Negara-negara tersebut telah lebih dulu menyesuaikan rutinitas kerja warganya demi menghemat pembakaran BBM harian.

"Dari lima jadi empat, Filipina, Pakistan sudah," jelasnya.

Skenario darurat kedua memberikan fleksibilitas lokasi kerja bagi para pegawai secara masif. Pemerintah berencana memberlakukan sistem bekerja dari rumah dalam skala besar guna menekan volume kendaraan komuter.

"Mungkin 75% karyawan dan pegawai bisa kerja dari rumah," tegasnya.

Langkah darurat terakhir mengatur ketat mobilitas pengguna kendaraan pribadi roda empat di jalan raya. Pemerintah siap melarang penggunaan mobil berpenumpang tunggal karena dinilai sangat memboroskan bahan bakar.

"Satu mobil tidak boleh ditumpangi satu orang," ucapnya.

Aparat nantinya bertugas mengawasi ketat batas kuota muatan kendaraan roda empat di lapangan. Masyarakat wajib memaksimalkan ruang kosong di dalam mobil melalui sistem berbagi tumpangan atau carpooling.

"Di negara-negara lain juga satu mobil minimal empat orang," pungkasnya.