periskop.id - Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Bima Yudhistira, menyoroti efektivitas penempatan tambahan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp100 triliun oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

‎Menurut Bima, suntikan likuiditas tersebut dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap penyaluran kredit, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

‎"Pertanyaannya yang kemarin 200 triliun belum ada pengaruhnya ke kredit UMKM," ucap Bima dikutip dari akun Instagram @celios_id, Senin (30/3).

‎Ia mengungkapkan, berdasarkan data per Januari 2026, pertumbuhan kredit UMKM justru mengalami kontraksi sebesar 0,5% secara tahunan. Bahkan, kredit modal kerja UMKM tercatat turun hingga 4,8%, yang umumnya digunakan untuk pembelian bahan baku dan operasional usaha.

‎"Dan segmen usaha kecil, kreditnya minus 1,1%. Jadi ragu sebenarnya, uang dari suntikan dana sahal larinya ke sektor apa? Memang sepertinya bukan ke kredit usaha rakyat," ungkapnya.

‎Di sisi lain, ia mencatat adanya peningkatan signifikan pada kredit korporasi yang tumbuh hingga 15,2%. Namun, kenaikan tersebut diduga lebih banyak digunakan untuk refinancing atau penggantian kredit lama, sehingga tidak memberikan dampak langsung terhadap perputaran ekonomi di level masyarakat bawah.

‎"Indikasinya buat refinancing alias ganti kredit lama ke kredit baru. Uangnya sebenarnya nggak berputar ke ekonomi masyarakat bawah," tambah dia.

‎Lebih lanjut, Bima menilai perbankan saat ini cenderung berhati-hati dalam menyalurkan kredit di tengah tingginya risiko usaha. Hal ini tercermin dari masih besarnya kredit yang belum tersalurkan (undisbursed loan) yang mencapai sekitar Rp2.506 triliun atau 1,4% dari total kredit.

‎Menurutnya, kondisi ini memunculkan fenomena yang kerap disebut sebagai “lazy bank”, yakni bank yang dinilai kurang agresif dalam menyalurkan kredit. 

Namun, hal tersebut bukan semata karena minimnya likuiditas, melainkan kekhawatiran terhadap kemampuan debitur dalam mengembalikan pinjaman di tengah ketidakpastian ekonomi.

‎"Jadi fenomena lazy bank atau bank yang disebut malah salurkan kredit ini bukan karena kurang kualitas. Tapi khawatir debitur nggak bisa mengembalikan uang, mengembalikan pinjamannya. Karena risiko usaha memang lagi tinggi," tutup Bima.