periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi bulanan Indonesia pada Maret menyentuh angka 0,41%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono memaparkan rincian laporan ekonomi ini dalam konferensi pers pada Rabu (1/4). "Secara tahunannya, yaitu year to date-nya, terjadi inflasi sebesar 0,94%," katanya.

Kenaikan inflasi bulanan ini sejalan dengan lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Angka IHK merangkak naik dari 110,57 pada Februari menjadi 110,95.

Berdasarkan komponennya, harga bergejolak menjadi pendorong utama laju inflasi.

Komponen ini mencatat tingkat inflasi sebesar 1,58% dengan besaran andil 0,27%.

Komoditas pangan pokok sangat mendominasi lonjakan harga pada kelompok tersebut.

Daging ayam ras, beras, telur, cabai rawit, hingga daging sapi kompak mengalami kenaikan harga di pasaran.

Secara spesifik, kelompok pangan menyumbang andil 0,32% terhadap total inflasi bulanan.

Ikan segar dan daging ayam ras memberikan porsi andil terbesar masing-masing 0,06%.

Beras menyusul di urutan berikutnya dengan capaian andil sebesar 0,03%.

Telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi turut memberikan porsi andil masing-masing 0,02%.

Selain sektor pangan, komponen harga yang diatur pemerintah turut mencatat inflasi sebesar 0,31%.

"Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi untuk yang komponen harga diatur pemerintah yaitu bensin, tarif angkutan antara kota, dan juga sigaret kretek dengan mesin atau SKM," terangnya.

Bensin memicu laju inflasi 0,04% disusul tarif angkutan antarkota sebesar 0,03%.

Beberapa komoditas seperti tarif angkutan udara justru masih menahan laju inflasi lebih tinggi.

"Dan emas perhiasan dengan andil inflasinya untuk tarif angkutan udara masing-masingnya dengan emas yaitu 0,03%," tambahnya.

Secara akumulasi tahunan, BPS mencatat tingkat inflasi meroket tajam mencapai angka 3,48%.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memimpin inflasi tahunan sebesar 7,24%.

Tarif listrik menjadi aktor utama penyumbang pembengkakan inflasi pada kelompok tersebut.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga ikut melesat tinggi menyentuh 15,32%.

"Inflasi pada kelompok tersebut terutama terjadi pada komoditas emas perhiasan. Sekali lagi ini year on year-nya," tutupnya.