periskop.id – Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan produksi tilapia terus didorong untuk menjawab kebutuhan pasar internasional.
Langkah tersebut diambil seiring meningkatnya permintaan ikan nila di pasar global, khususnya Amerika Serikat dan Eropa.
“Dua program itu untuk meningkatkan kapasitas produksi nila nasional sekaligus memastikan seluruh proses budidaya memenuhi standar internasional yang berlaku,” ujar Trenggono, Senin (18/5).
Pemerintah menempuh sejumlah strategi konkret untuk mendongkrak komoditas andalan baru ekspor perikanan Indonesia ini. Strategi tersebut antara lain pengembangan kawasan budi daya ikan nila salin (BINS) di Karawang.
Selain itu, KKP juga melakukan revitalisasi tambak di sepanjang Pantai Utara (Pantura). Upaya ini diharapkan mampu memenuhi standar ketat konsumen luar negeri.
Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Erwin Dwiyana menambahkan tilapia menjadi salah satu daya tarik utama bagi konsumen global. Ikan ini memiliki keunggulan tersendiri di mata pembeli internasional.
Komoditas ini dikenal luas sebagai chicken of the sea. Julukan tersebut melekat karena rasanya yang ringan dan karakternya yang mudah diolah.
Nila juga diminati berkat kandungan gizi yang sangat baik bagi tubuh. Sajian per 100 gram ikan ini menyimpan protein tinggi sekitar 20 hingga 29 gram.
Kelebihan lain produk perikanan ini adalah rendah kandungan lemak jenuh. Ikan air tawar tersebut kaya akan asam lemak Omega-3, 6, dan 9.
Nutrisi pendukung lain yang melengkapinya adalah vitamin B12 serta berbagai mineral penting. Kandungan tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan konsumen.
“Saat ini tilapia menjadi komoditas ekspor kita yang nol penolakan,” kata Erwin.
Bebasnya produk ini dari penolakan di negara tujuan bukan tanpa alasan. Keberhasilan tersebut ditopang oleh kepemilikan dokumen mutu yang sangat lengkap.
Kunci utama kepercayaan pasar internasional bersumber dari pemenuhan berbagai sertifikasi resmi. Regulasi ketat berhasil dilewati lewat standardisasi menyeluruh.
Sertifikat yang telah dikantongi antara lain GMP-SSOP, HACCP, hingga health certificate. Dokumen ini menjadi jaminan utama mutu produk di pelabuhan tujuan.
Standardisasi global lain seperti ISO 22000, SQF, BAP, ASC, dan BRC juga sudah terpenuhi. Hasilnya, produk tilapia Indonesia melenggang bebas ke pasar dunia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar