periskop.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, menyampaikan perekonomian global sepanjang 2025 diwarnai ketidakpastian tinggi akibat meningkatnya perang dagang dan ketegangan geopolitik antarnegara.

‎Menurut Perry, kebijakan tarif resiprokal sepihak yang diterapkan Amerika Serikat (AS) pada 2025 yang lalu telah memicu fragmentasi ekonomi global serta mengganggu rantai pasok dunia. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi global cenderung stagnan di kisaran 3,3%, tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

‎"Nah itu merubah secara total bagaimana kondisi global yang berdampak terhadap kondisi ekonomi Indonesia termasuk berdampak bagaimana kami menjalankan mandat undang-undang menjaga stabilitas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Perry dalam Raker bersama Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (8/4). 

‎Selain itu, Perry menjelaskan bahwa tekanan perang dagang juga membuat proses penurunan inflasi global berjalan lebih lambat dari perkiraan. 

‎Pada 2025, inflasi dunia tercatat turun dari 4,9% menjadi sekitar 3,5%, namun kata dia, seharusnya bisa lebih rendah jika tidak ada eskalasi kebijakan tarif tersebut.

‎"Mestinya bisa lebih rendah lagi, sehingga itu berdampak bahwa meskipun secara umum kebijakan monitor global itu akomodatif, tapi tingkat kecepatan penurunan suku bunganya lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya," terang dia.