periskop.id - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
Perry menjelaskan, proyeksi tersebut disusun dengan mempertimbangkan berbagai risiko eksternal, mulai dari berlanjutnya perang dagang, fragmentasi ekonomi global, hingga tingginya volatilitas arus modal di negara berkembang.
"Untuk tahun 2026 kami masih memperkirakan 4,9 sampai 5,7 nanti kami asingkan beberapa balance of risk dari pertumbuhan 2026," kata Perry dalam Raker bersama Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (8/4).
Ia menuturkan, dinamika global seperti kebijakan tarif resiprokal dan ketegangan geopolitik berpotensi menekan perdagangan internasional serta mengganggu rantai pasok dunia. Kondisi ini berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang turut memengaruhi kinerja ekonomi Indonesia.
Di sisi lain, arah kebijakan moneter global juga dinilai lebih berhati-hati. Perry menyebut bank sentral utama dunia, termasuk The Fed, tidak seagresif perkiraan awal dalam menurunkan suku bunga.
"Federal Reserve pun juga yang semula diperkirakan lebih agresif, tapi juga lebih perlahan dan kemudian demikian juga di berbagai negara lain yang memang meskipun kebijakan monitor akomodatif, tapi tingkat kecepatan penurunan suku bunganya itu juga lebih lambat," terang dia.
Selain itu, volatilitas aliran modal asing masih menjadi tantangan bagi negara emerging market, termasuk Indonesia. Pada awal 2025, terjadi gelombang arus modal keluar dari pasar negara berkembang, baik di instrumen saham maupun obligasi.
Meski mulai menunjukkan perbaikan, tingkat volatilitas yang tinggi membuat pelaksanaan kebijakan ekonomi, khususnya oleh bank sentral, menjadi semakin kompleks.
"Ini yang membuat bagaimana pelaksanaan kebijakan di negara-negara emerging market, termasuk bagaimana menjalankan tugas-tugas Bank Sentral itu lebih challenging, lebih kompleks yang nanti kami akan sampaikan," paparnya.
Di tengah tantangan tersebut, Perry menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia pada 2025 tetap relatif terjaga. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,11%, dengan kontribusi utama berasal dari konsumsi domestik dan investasi.
Selain itu, kinerja sektor eksternal juga cukup solid, tercermin dari pertumbuhan ekspor sebesar 7,8% yang lebih tinggi dibandingkan impor sebesar 4,7%, sehingga memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
"Kita juga di sektor ekspornya masih cukup bagus sehingga kesesaraan kursuran ekspornya itu tumbuhnya 7,8 sementara importnya 4,7 sehingga secara itu net exportnya masih positif. Itu yang pertama kita bersyukur ini," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar