periskop.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mencatat antrean perusahaan dalam pipeline penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Hingga 5 Juni 2026, tercatat baru 1 perusahaan yang resmi mencatatkan saham di BEI dengan total dana dihimpun sebesar Rp0,30 triliun.

“Hingga saat ini, terdapat 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna kepada wartawan, Senin (8/6).
Angka itu menyusut dari 15 perusahaan yang berada di pipeline IPO per 22 Mei 2026. Nyoman menjelaskan, perubahan ini terkait dengan proses administrasi pencatatan.

Advertisement

“Ada yg revisi laporan keuangan menggunakan laporan keuangan (LK) terbaru. Ada yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen. Ada yang belum disetujui,” jelas Nyoman.

Jika ditinjau berdasarkan klasifikasi aset sesuai POJK No. 53/POJK.04/2017, pipeline IPO tersebut terdiri dari 8 perusahaan dengan aset skala besar atau di atas Rp250 miliar dan 4 perusahaan dengan aset skala menengah atau antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.

Sementara itu, tidak terdapat perusahaan dengan aset skala kecil atau di bawah Rp50 miliar.

Berdasarkan sektornya, perusahaan dalam pipeline IPO berasal dari sektor consumer cyclicals sebanyak 3 perusahaan dan healthcare 3 perusahaan.

Kemudian, sektor consumer non-cyclicals dan infrastruktur masing-masing 2 perusahaan, serta masing-masing 1 perusahaan dari sektor financials dan teknologi.

Pipeline Obligasi, Sukuk dan Rights Issue

Selain pipeline IPO, BEI juga mencatat penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) sepanjang 2026 telah mencapai 63 emisi dari 40 penerbit dengan total dana dihimpun sebesar Rp69,94 triliun.

Saat ini, terdapat 53 emisi dari 36 penerbit yang berada dalam pipeline EBUS. 

Berdasarkan sektornya, pipeline tersebut berasal dari sektor keuangan atau finansial sebanyak 14 perusahaan, infrastruktur 7 perusahaan, dan energi 5 perusahaan.

Selanjutnya, masing-masing 3 perusahaan berasal dari sektor basic materials dan consumer non-cyclicals, serta 2 perusahaan dari sektor industri. Selain itu, terdapat masing-masing 1 perusahaan dari sektor healthcare dan technology.

Sementara itu, hingga 5 Juni 2026 tercatat terdapat 4 perusahaan tercatat yang telah melaksanakan aksi korporasi rights issue dengan total nilai sebesar Rp3,89 triliun.

Adapun saat ini masih terdapat 1 perusahaan yang berada dalam pipeline rights issue yang berasal dari sektor properties & real estate.