periskop.id - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan, pasukan AS telah sepenuhnya menghentikan perdagangan maritim dari dan menuju Iran dalam waktu kurang dari 36 jam sejak blokade diberlakukan.
Pernyataan itu disampaikan Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper, Selasa (14/4) waktu setempat setelah AS memulai blokade pada Senin (13/4), terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran.
CENTCOM, yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di Timur Tengah, mengatakan, blokade diberlakukan terhadap semua kapal dari negara mana pun yang melintas di Teluk Persia dan Teluk Oman. Namun, Cooper mengatakan, pasukan AS "tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan non-Iran."
AS melakukan blokade setelah negosiasi langsung AS-Iran di Pakistan akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan, untuk mengakhiri perang yang meletus sejak 28 Februari.
Sebelumnya pada Selasa, CENTCOM menyatakan tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade dalam 24 jam pertama. Sementara enam kapal dagang mematuhi perintah untuk berbalik dan kembali ke pelabuhan Iran di Teluk Oman.
Mengutip pejabat AS, The Wall Street Journal melaporkan, Angkatan Laut AS telah mencegat delapan kapal tanker minyak yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran sejak blokade dimulai. Presiden AS Donald Trump juga menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk melacak dan mencegat semua kapal yang membayar Iran untuk dapat melintasi Selat Hormuz.
Arab Saudi Protes
Sementara itu, Arab Saudi mendesak AS untuk menghentikan blokade Selat Hormuz dan kembali berunding dengan Iran. Menurut laporan tersebut, Arab Saudi merasa khawatir blokade Trump dapat menyebabkan Iran meningkatkan eskalasi dan mengganggu jalur pelayaran penting lainnya.
Saudi khawatir Iran membalas blokade dengan menutup Bab al-Mandeb - jalur sempit strategis di Laut Merah yang sangat penting bagi sisa ekspor minyak Saudi. “Negara-negara Teluk tidak ingin perang berakhir dengan Iran menguasai Selat Hormuz, jalur ekonomi vital mereka,” kata laporan itu.
Untuk itu banyak negara, termasuk Arab Saudi, mendesak AS untuk menyelesaikan masalah ini di meja perundingan dan berupaya keras untuk memulai kembali pembicaraan. Laporan itu juga menyatakan, di balik sikap tegas yang ditunjukkan ke publik, AS dan Iran tetap menjalin komunikasi lewat perantara dan siap berunding jika keduanya bersedia lebih fleksibel.
Tinggalkan Komentar
Komentar