periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memberikan sinyal tidak akan mengubah peringkat utang Indonesia hingga dua tahun ke depan, atau sekitar 2028.
Menurut Purbaya, peringkat kredit Indonesia saat ini masih berada pada level investment grade di kategori BBB dan dinilai tetap stabil meskipun di tengah tekanan ekonomi global.
"Kalau saya baca sinyal dia (S&P) dia bilang gitu. Artinya 2 tahun ke depan gak akan berubah. Peringkat yang mungkin bisa negatif tapi gak akan berubah. Peringkat triple B-nya. Artinya masih investment grade," kata Purbaya dalam media briefing, Jakarta, Selasa (21/4).
Ia menilai, stabilitas tersebut mencerminkan kuatnya fondasi ekonomi nasional yang tetap terjaga di tengah gejolak global. Pemerintah, lanjutnya, juga berkomitmen menjaga disiplin fiskal agar kondisi tetap terkendali.
"Kalau untuk saya sih bagus aja. Kenapa? Sekalian juga saya bisa beresin program-program yang macet-macet kita jalanin. Sesuai dengan concern dari S&P ya," terangnya.
Ia menilai hal ini sebagai momentum untuk memperbaiki sejumlah program pemerintah, termasuk menjawab berbagai catatan yang menjadi perhatian S&P, salah satunya terkait rasio pembayaran utang terhadap pendapatan negara.
"Anda lain salah satu concernnya, Anda tanya kan rasio pembayaran utang ke income-nya. Kan saya akan betulin pajaknya. Jadi bentar lagi pajak, kita gebrak-gebrak lagi supaya performanya lebih bagus," paparnya.
Untuk itu, pihaknya akan terus mendorong optimalisasi penerimaan pajak. Ia menyebutkan, kinerja penerimaan pajak pada awal tahun menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan mencapai sekitar 30% dalam dua bulan pertama 2026.
"Walaupun sekarang lebih bagus. Salah satu itunya adalah tadi. Kita 2 bulan pertama tahun ini kan pajaknya tumbuh 30%. Sampai Maret tumbuhnya turun sedikit karena musiman kan. Karena ribuan panjang itu. Tapi masih tumbuh 30% yang paling pertama. Itu untuk mereka (S&P) sinyal yang amat positif," tegas Purbaya.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa sinyal dari S&P tersebut bukan jaminan mutlak. Namun, hal itu tetap menjadi indikasi kuat bahwa kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi Indonesia masih terjaga.
"Bukan menjamin, dia bilang seperti itu. Kalau saya itu nggak tahu kalau gitu jamin apa nggak. Ya kalau saya mau optimis saya bilang jamin. Tapi nggak ngejamin ya. Cuma dia bilang artinya sampai 2 tahun kamu nggak berubah," tutup dia.
Tinggalkan Komentar
Komentar