periskop.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga dengan baik usai pertemuannya dengan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (14/4).
Dalam pertemuan tersebut, S&P mengonfirmasi bahwa peringkat kredit Indonesia tetap berada di level triple B (BBB) dengan outlook stabil. Peringkat ini menandakan Indonesia masih berada dalam kategori investment grade atau layak investasi dengan risiko gagal bayar yang relatif rendah.
"Beritanya agak menyenangkan buat saya bahwa S&P memberikan konfirmasi bahwa rating kita tetap triple B dengan outlook yang tetap stabil,” kata Purbaya dalam keterangannya, Kamis (16/4).
Purbaya menegaskan, pemerintah konsisten menjaga disiplin fiskal, terutama dengan mempertahankan defisit anggaran di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kebijakan tersebut, menurutnya, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Mereka (S&P) menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten menjaga di bawah 3 persen dari PDB,” terangnya.
Ia juga mengakui adanya perhatian dari S&P terhadap rasio pembayaran utang terhadap pendapatan negara. Namun, pemerintah memastikan kondisi tersebut masih terkendali dan belum berada pada level yang membahayakan.
Untuk memperkuat fundamental fiskal tersebut, ia menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan restrukturisasi di sektor perpajakan dan cukai guna meningkatkan kinerja penerimaan negara.
Bendahara negara itu menilai bahwa upaya ini mulai menunjukkan hasil, tercermin dari pertumbuhan penerimaan pajak yang mencapai 30 persen dalam dua bulan pertama tahun ini dan sekitar 20 persen pada periode Januari–Maret dibandingkan tahun sebelumnya.
"Saya sampaikan ke mereka kita sudah restrukturisasi organisasi Pajak dan Cukai supaya performnya lebih baik. Dan ketika kita beritahu bahwa dua bulan tahun ini pertumbuhan pajak 30 persen dan di bulan Januari-Maret dibanding tahun lalu tumbuh 20 persen mereka sepetinya cukup puas,” terangnya.
Meski demikian, S&P juga menilai adanya perbaikan pada berbagai indikator ekonomi, baik makro maupun mikro, termasuk pertumbuhan ekonomi yang menguat pada triwulan IV. Defisit anggaran yang diperkirakan berada di kisaran 2,8% turut menjadi sinyal positif bagi lembaga pemeringkat tersebut.
Purbaya menegaskan, pemerintah akan terus memantau kondisi fiskal dan memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga, termasuk dalam pengelolaan pembayaran bunga utang agar tidak membebani keuangan negara.
“Dan yang terpenting adalah mereka melihat bahwa pertumbuhan kita membaik di triwulan ke IV dibanding sebelumnya. Itu mungkin alasan mereka memberi konfirmasi saya kemarin bahwa outlook peringkat kita tetap stabil,” tutup Purbaya.
Tinggalkan Komentar
Komentar