periskop.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan kajian komprehensif guna merumuskan strategi penguatan perlindungan industri baja dalam negeri.
Langkah tersebut dilakukan guna menjaga keberlanjutan sektor manufaktur nasional di tengah dinamika pasar global.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, meningkatnya persaingan dengan produk impor berharga lebih murah membuat industri baja dalam negeri terpukul.
Sebagai contoh yang dialami PT Krakatau Osaka Steel (KOS), salah satu perusahaan yang menghentikan kegiatan produksi pada akhir April 2026, serta akan menutup seluruh kegiatan usahanya pada Juni 2026.
Febri bilang, produsen baja global, khususnya dari Tiongkok, memiliki keunggulan dari sisi skala produksi dan efisiensi biaya, sehingga mampu menawarkan harga yang lebih kompetitif di pasar internasional, termasuk Indonesia.
“Kondisi ini menempatkan industri baja nasional pada posisi yang sulit. Di satu sisi, produsen dalam negeri berkomitmen menjaga kualitas produk, namun di sisi lain harus menghadapi tekanan harga dari produk impor yang lebih rendah. Situasi ini semakin diperberat oleh melemahnya permintaan domestik, khususnya dari sektor konstruksi,” jelasnya.
Oleh sebab itu, Kemenperin telah melakukan berbagai langkah strategis, antara lain melalui pengendalian impor produk baja dan turunannya melalui pemberlakuan lartas, pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk baja batangan, penyediaan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), serta pemberian tarif bea masuk nol persen untuk bahan baku billet.
Namun demikian, berkaca pada kondisi yang dialami PT Krakatau Osaka Steel, Kemenperin menilai masih diperlukan penguatan kebijakan perlindungan dan pengembangan industri baja nasional.
“Kami akan melakukan kajian secara komprehensif guna merumuskan strategi yang lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan industri baja dalam negeri,” ujarnya.
Febri menegaskan, Kemenperin berkomitmen memperkuat daya saing nasional melalui perluasan pemberlakuan SNI wajib secara konsisten. Penguatan implementasi kebijakan pengendalian impor juga terus ditingkatkan.
Pemerintah juga menargetkan peningkatan penggunaan produk dalam negeri pada seluruh proyek strategis. Upaya ini menjadi kunci bagi kemandirian sektor manufaktur nasional di masa depan.
Ia menambahkan, efektivitas kebijakan ini nantinya sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dunia. Struktur biaya produksi dan tingkat permintaan domestik turut menjadi faktor penentu keberhasilan program.
"Keberhasilan penguatan industri baja nasional memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat," imbuhnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar