Periskop.id - Kondisi ekonomi Indonesia saat ini tengah menghadapi ujian berat seiring dengan meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Eskalasi konflik yang terus membara di Timur Tengah telah memicu ketidakpastian global yang luar biasa, memicu kekhawatiran bahwa pelemahan mata uang garuda akan menular lebih cepat ke jantung perekonomian domestik.
Berdasarkan data pasar pada Selasa (12/5), nilai tukar rupiah kini berada di kisaran Rp17.506 per dolar AS. Tren pelemahan ini sebenarnya bukan hal baru, mengingat dalam rentang 28 tahun terakhir rupiah cenderung terus terdepresiasi.
Namun, situasi kali ini dinilai lebih kompleks karena pola pemicunya yang unik namun dengan dampak ekonomi yang tetap serupa.
Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rijadh Djatu Winardi, memberikan pandangannya terkait fenomena ini. Ia menilai pelemahan saat ini adalah hasil akumulasi berbagai tekanan simultan atau yang sering disebut sebagai perfect storm.
Dari perspektif global, Rijadh menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik membuat investor berbondong-bondong memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven).
Sementara dari sisi internal, Indonesia menghadapi faktor musiman seperti periode pembayaran dividen kepada investor asing yang menguras stok valuta asing.
“Kombinasi faktor global dan domestik, menurut saya, membuat pelemahan rupiah terasa lebih berat,” ujarnya pada Minggu (10/5), sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM pada Selasa (12/5).
Ancaman Inflasi Impor
Masyarakat luas diprediksi akan segera merasakan dampak langsung dari pelemahan nilai tukar ini dalam bentuk kenaikan harga barang. Dalam studi ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai imported inflation atau inflasi impor.
Kondisi ini terjadi ketika melemahnya rupiah secara otomatis meningkatkan biaya pengadaan barang dan bahan baku impor dalam denominasi lokal.
Meskipun perusahaan manufaktur saat ini mungkin masih memiliki stok bahan baku lama, Rijadh memperingatkan bahwa penyesuaian harga ke tingkat konsumen sulit dihindari. Umumnya, kenaikan harga akan terjadi dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan ke depan.
“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk kenaikan harga kebutuhan pokok, meningkatnya biaya transportasi, dan naiknya harga produk kesehatan,” katanya memperingatkan.
Beban APBN Membengkak
Tidak hanya berdampak pada kantong masyarakat, pelemahan rupiah juga memberikan tekanan hebat pada postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sektor belanja yang paling sensitif terhadap nilai tukar adalah subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri.
Karena subsidi energi sangat bergantung pada komponen impor, beban APBN otomatis membengkak ketika rupiah melemah. Di sisi lain, nilai pokok dan bunga utang luar negeri dalam rupiah ikut melonjak, meskipun kewajiban dalam mata uang aslinya tetap sama.
“Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas,” jelas Rijadh.
Dilema Bank Indonesia dan Upaya Penyelamatan
Kondisi ini menempatkan Bank Indonesia (BI) pada posisi dilematik. BI harus menjaga keseimbangan yang sangat tipis antara mempertahankan stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga atau tetap menjaga suku bunga rendah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik agar daya beli masyarakat tidak semakin terpuruk.
Rijadh menyarankan penggunaan instrumen campuran, seperti intervensi pasar valuta asing dan penggunaan surat berharga untuk menarik arus modal masuk kembali ke Indonesia. Menurutnya, pendekatan ini cukup rasional untuk menjaga keseimbangan makroekonomi.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya disiplin belanja negara untuk menjaga kredibilitas fiskal dan memperkuat ketahanan sektor pangan serta energi domestik agar tidak terlalu bergantung pada impor. Ia juga mengingatkan pemerintah untuk tidak melupakan kelompok masyarakat yang paling rentan.
“Yang tidak kalah penting, menurut saya, adalah menjaga ketahanan kelompok masyarakat rentan. Program perlindungan sosial harus tetap kuat dan adaptif karena kelompok inilah yang biasanya pertama kali merasakan dampak kenaikan harga,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar