Periskop.id - Otoritas kesehatan masyarakat di berbagai penjuru dunia saat ini tengah bekerja ekstra keras untuk mengendalikan wabah hantavirus yang terdeteksi bermula dari sebuah kapal pesiar pada awal April 2026. 

Munculnya wabah ini di tengah memori kolektif masyarakat tentang pandemi global memicu kekhawatiran besar. Banyak judul berita mulai bernada mengkhawatirkan dan mempertanyakan apakah dunia akan kembali menghadapi situasi serupa COVID-19.

Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) segera mengambil langkah untuk meredam kepanikan. WHO menegaskan bahwa risiko bagi masyarakat umum saat ini masih berada pada level yang sangat rendah.

“Saya ingin menegaskan dengan sangat jelas. Ini bukan awal dari pandemi COVID,” kata Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, seperti dikutip oleh NPR pada Kamis (7/5).

Mengenal Gejala dan Risiko Fatalitas Hantavirus

Hantavirus bukanlah penyakit yang bisa disepelekan. Infeksi ini umumnya diawali dengan gejala yang sangat mirip dengan flu biasa, seperti kelelahan ekstrem, demam, dan nyeri pada otot. Pada beberapa pasien, gejala ini dapat disertai dengan gangguan pencernaan seperti diare dan muntah.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah perkembangan penyakit ini. Dalam beberapa kasus, hantavirus dapat bermutasi menjadi infeksi pernapasan berat yang mematikan. Hingga saat ini, belum tersedia vaksin resmi maupun pengobatan khusus yang diciptakan khusus untuk hantavirus. 

Sebagai langkah mitigasi, WHO meminta siapa pun yang diduga terinfeksi untuk segera mencari bantuan medis. Perawatan intensif seperti penggunaan ventilator terbukti dapat membantu meningkatkan peluang keselamatan pasien secara signifikan.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tingkat kematian akibat hantavirus tergolong cukup tinggi, yakni berkisar antara 30% hingga 40%. Akan tetapi, Dr. Jeanne Marrazzo, CEO Infectious Diseases Society of America, menilai angka tersebut kemungkinan besar terlalu tinggi atau bias.

“Meskipun angka-angka tersebut sangat menakutkan, kita seringkali tidak mengetahui berapa jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi, karena kasus ringan mungkin terlewatkan,” ujar Dr. Marrazzo memberikan perspektif lain.

Mengapa Hantavirus Berbeda dengan COVID-19?

Para ilmuwan menekankan perbedaan fundamental antara hantavirus dan COVID-19. Jika COVID-19 disebabkan oleh virus baru yang muncul secara mendadak pada akhir 2019, hantavirus sebenarnya sudah dikenal dan dipelajari oleh dunia medis selama berpuluh-puluh tahun.

Profesor kesehatan global dan epidemiologi dari Emory University, Dr. Carlos del Rio, menjelaskan bahwa virus ini memiliki sejarah panjang. 

“Virus-virus ini pertama kali diidentifikasi selama Perang Korea,” katanya. 

Ia menambahkan bahwa nama hantavirus sendiri diambil dari Sungai Hantan yang terletak di dekat zona demiliterisasi antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Selain sejarahnya yang panjang, hantavirus tidak menyebar semudah COVID-19 atau influenza. Data medis menunjukkan bahwa kasus penularan antarmanusia masih sangat sedikit. 

Para ahli meyakini bahwa penularan hanya terjadi dari pasien yang sudah menunjukkan gejala kepada orang lain yang melakukan kontak sangat dekat.

Perbedaan krusial lainnya terletak pada kecepatan mutasi. Virus penyebab COVID-19 dan flu bermutasi dengan sangat cepat, yang sering kali menghasilkan varian baru yang menyulitkan upaya pengendalian. 

Sebaliknya, hasil analisis pada wabah di Argentina menunjukkan bahwa hantavirus tidak mengalami mutasi cepat.

“Itu sangat berbeda dengan sesuatu seperti virus pernapasan yang sangat kita khawatirkan: COVID, influenza,” tegas Dr. Marrazzo.

Langkah Pemantauan dan Masa Inkubasi

Saat ini, otoritas kesehatan di masing-masing negara tengah berupaya melakukan pelacakan terhadap mereka yang terpapar guna menentukan langkah pemantauan maupun prosedur karantina. 

Hal ini menjadi tantangan tersendiri mengingat hantavirus memiliki masa inkubasi yang cukup lama. Virus tersebut dapat bertahan di dalam tubuh selama satu hingga enam minggu sebelum gejala klinis mulai muncul ke permukaan.

Dengan pemahaman yang lebih baik dan fakta bahwa virus ini tidak menyebar semudah virus pernapasan lainnya, masyarakat dihimbau untuk tetap waspada namun tidak perlu panik secara berlebihan.