Periskop.id - Pergerakan nilai tukar mata uang di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) menunjukkan dinamika yang kontras dalam satu bulan terakhir. 

Berdasarkan data yang dihimpun dari Google Finance pada periode 12 April hingga 12 Mei 2026, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa paling tertekan dibandingkan dengan negara tetangga.

Kondisi ini memicu pertanyaan besar mengenai ketahanan ekonomi domestik di tengah fluktuasi global. 

Pada periode tersebut, rupiah mencatatkan pelemahan yang cukup signifikan, berbanding terbalik dengan beberapa mata uang regional yang justru berhasil mencatatkan apresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Data Perbandingan Performa Mata Uang ASEAN (April – Mei 2026)

Berikut adalah rincian performa mata uang negara-negara di ASEAN dalam kurun waktu satu bulan terakhir:

Mata UangNegaraper USD (12 April)per USD (12 Mei)PerubahanKeterangan
RinggitMalaysia3,983,94-1,01%Apresiasi
Dolar SingapuraSingapura1,281,27-0,78%Apresiasi
DongVietnam26.325,0026.331,000,02%Depresiasi
BahtThailand32,3232,410,28%Depresiasi
KipLaos21.806,4021.943,260,63%Depresiasi
Dolar BruneiBrunei1,251,271,60%Depresiasi
PesoFilipina59,9361,372,40%Depresiasi
RupiahIndonesia17.083,0017.524,002,58%Depresiasi
RielKamboja3.912,024.013,212,59%Depresiasi

Mengapa Rupiah Mengalami Pelemahan Signifikan?

Berdasarkan data di atas, rupiah menempati posisi kedua terbawah dalam hal stabilitas nilai tukar, hanya terpaut tipis dari Riel Kamboja yang terdepresiasi sebesar 2,59%. Sementara itu, Malaysia dan Singapura menunjukkan ketahanan luar biasa dengan masing-masing mencatatkan apresiasi sebesar 1,01% dan 0,78%.

Terdapat beberapa faktor komprehensif dan terpercaya yang menjelaskan mengapa Indonesia mengalami tekanan lebih berat dibandingkan mayoritas negara ASEAN lainnya:

1. Faktor Psikologi Pasar dan Safe Haven

Ketidakpastian geopolitik global sering kali membuat investor menarik modal dari pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven). 

Singapura, sebagai pusat keuangan dunia, lebih diuntungkan dalam situasi ini, sementara rupiah lebih rentan terhadap aksi jual investor asing.

2. Permintaan Valuta Asing Musiman

Bulan April dan Mei biasanya bertepatan dengan periode repatriasi dividen oleh perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. 

Perusahaan-perusahaan ini menukarkan rupiah ke dalam dolar dalam jumlah besar untuk dikirimkan ke kantor pusat mereka, yang secara otomatis meningkatkan permintaan dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah di pasar domestik.

3. Ketergantungan pada Arus Modal Asing

Struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada arus modal asing di pasar obligasi dan saham untuk menutup defisit transaksi berjalan. 

Ketika imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat naik atau risiko global meningkat, arus modal keluar dari Indonesia cenderung lebih deras dibandingkan negara dengan surplus transaksi berjalan yang kuat seperti Malaysia.

4. Persepsi Risiko Fiskal

Pelaku pasar sangat mencermati keberlanjutan fiskal Indonesia. Isu mengenai ruang fiskal yang semakin sempit serta beban subsidi yang membengkak akibat pelemahan kurs menciptakan sentimen negatif yang membuat rupiah sulit untuk menguat dalam waktu singkat.

Secara keseluruhan, meskipun depresiasi melanda hampir seluruh dunia, posisi rupiah yang melemah hingga 2,58 persen menunjukkan perlunya langkah-langkah strategis dari otoritas moneter dan fiskal untuk menjaga kepercayaan pasar dan meminimalkan volatilitas lebih lanjut.