periskop.id – Ketua Tim Peneliti Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Flori Ratna Sari mengungkapkan keberhasilan timnya mengembangkan alat deteksi halal portabel.
Alat deteksi halal itu berbasis sensor cerdas molekuler dan electronic nose (e-nose).
Inovasi strategis ini bertujuan memperkuat ekosistem halal nasional. Penemuan tersebut sekaligus mendukung program Wajib Halal Oktober (WHO) 2026.
"Dengan pengenceran 100.000 kali, kit portabel kami masih dapat mendeteksi DNA babi dengan cepat, mudah dan akurat walaupun dengan pendekatan kualitatif. Ini akan memudahkan auditor halal di lapangan maupun masyarakat yang ingin mendapat jaminan halal," ujar Flori dalam keterangan tertulis, Senin (18/5).
Flori menjelaskan, riset komprehensif ini fokus pada metode identifikasi halal yang praktis serta ekonomis. Penggunaan alat di lapangan tetap menjamin tingkat akurasi tinggi. Dua prototipe alat deteksi DNA babi portabel berhasil diciptakan lewat penelitian tersebut.
Teknologi electronic nose, lanjut Flori, bekerja memanfaatkan sensor penciuman elektronik. Sistem ini dirancang mampu mengenali aroma spesifik dari bahan tidak halal.
"Untuk electronic nose sendiri, seperti namanya dapat ‘mencium’ bau babi melalui sensor sehingga ke depan harapannya hanya dengan ‘mencium’ bau makanan, alat ini bisa menyatakan apakah ada campuran bahan tidak halal atau tidak," terangnya.
Tim peneliti juga telah mendaftarkan paten dua prototipe detektor halal portabel. Pendaftaran dilakukan resmi ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Pengembangan kit sensor molekuler menjadi fokus utama untuk deteksi cepat DNA babi.
Flori menuturkan, inovasi mutakhir ini diharapkan mampu memperkuat implementasi program wajib halal pemerintah. Akselerasi sertifikasi halal nasional menjadi target utama dari kehadiran teknologi baru ini.
"Kami sebagai peneliti dari PTKIN Kementerian Agama sangat mendukung program Wajib Halal Oktober (WHO) 2026 yang dicanangkan pemerintah dan berharap Kementerian Agama melalui PTKIN dapat memperkuat ekosistem halal melalui riset yang berkaitan dengan identifikasi halal," ujarnya.
Langkah strategis ini menyasar percepatan sertifikasi halal, khususnya sektor makanan dan minuman. Kehadiran alat praktis ini diharapkan mendongkrak kepercayaan publik.
"Semoga kehadiran alat yang praktis dan mudah digunakan di lapangan juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk halal di Indonesia," harap mereka.
Untuk diketahui, riset tersebut dibiayai melalui program MoRA The Air Funds hasil kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP.
Adapun Tim peneliti dipimpin Prof. dr. Flori Ratna Sari, Ph.D dengan anggota Chris Adhiyanto, S.Si, M.Biomed, Ph.D; Prof. Dr. Nur Inayah, M.Si; Prof. Arif Zamhari, M.Ag., Ph.D dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Prof. Dr. Sri Harini, M.Si; dan Dr. Imam Tazi, M.Si dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar