Periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit industri perbankan nasional mengakselerasi ke level 11,51% secara tahunan per Mei 2026, naik dari 9,98% pada April. Total penyaluran kredit menyentuh Rp8.918 triliun, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang bertahan stabil di 2,17%.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut, dari sisi kepemilikan, kredit bank BUMN tampil paling unggul dibandingkan kelompok bank lainnya.
"Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi yaitu sebesar 15,98% yoy," ujar Dian dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK), Selasa (7/7).
Kredit investasi menjadi segmen dengan akselerasi paling kencang, tumbuh 21,95% secara tahunan pada Mei 2026. Capaian itu melaju dari pertumbuhan 19,48% pada bulan sebelumnya.
Kredit modal kerja ikut bergerak positif, naik dari 6,04% menjadi 8,09% secara tahunan. Berbeda arah, kredit konsumsi justru sedikit melambat dari 6,13% menjadi 5,89% secara tahunan.
Dari kategori debitur, kredit korporasi masih menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 18,39% secara tahunan. Kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga membaik, tumbuh 0,6% secara tahunan, naik dari 0,16% pada April 2026.
Dari sisi profil risiko, NPL gross industri perbankan tercatat stabil di 2,17%, sama seperti posisi bulan sebelumnya. NPL net pun bertahan di level 0,84%.
Dian memaparkan, posisi likuiditas perbankan masih terjaga. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) turun ke 108,2% dari 111,13%, sementara rasio AL/DPK turun ke 24,74% dari 25,39%.
Dana pihak ketiga (DPK) perbankan per Mei 2026 juga menguat, tumbuh 13,49% secara tahunan dari sebelumnya 11,4%. Rasio kredit terhadap deposito (loan to deposit ratio/LDR) turun tipis ke 86,63% dari 86,88% pada April 2026.
OJK menetapkan target pertumbuhan kredit perbankan di kisaran 10%-12% sepanjang 2026. Untuk DPK, regulator memasang target pertumbuhan di rentang 7%-9% pada tahun yang sama.
Tinggalkan Komentar
Komentar