Periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pemantauan risiko pada lembaga jasa keuangan (LJK) di tengah tekanan suku bunga dan gejolak nilai tukar. Pengawasan itu mencakup risiko pasar dan likuiditas secara menyeluruh.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan, pihaknya menyiapkan serangkaian langkah mitigasi sebagai respons atas tekanan tersebut. Salah satunya adalah penilaian berwawasan ke depan (forward looking assessment) melalui stress testing.

"Kami juga melakukan berbagai forward looking assessment, antara lain dengan melakukan stress testing untuk mengukur ketahanan sektor jasa keuangan dengan berbagai skenario, yang hasilnya digunakan untuk pertimbangan dalam mengambil langkah pengawasan dan kebijakan secara pre-emptive, responsif, dan terukur," kata Friderica dalam konferensi pers hasil RDKB di Jakarta, Selasa.

Friderica juga meminta seluruh LJK menjalankan stress testing secara berkala guna mengukur ketahanan masing-masing lembaga. LJK pun diharapkan mencermati bukan hanya eksposur langsung, tapi juga dampak lanjutan (second-round impact) terhadap debitur dan portofolionya.

Di sisi permodalan, OJK mendorong penguatan modal LJK secara berkelanjutan. Langkah itu bertujuan memperbesar daya saing sekaligus memastikan lembaga memiliki bantalan yang cukup untuk menyerap berbagai tekanan dan risiko.

Khusus di sektor pasar modal, OJK mempertahankan kebijakan penundaan implementasi transaksi short selling, penerapan trading halt, serta batas auto rejection sampai September 2026. Kebijakan itu dipertahankan sebagai instrumen penjaga stabilitas pasar saham di tengah volatilitas yang masih tinggi.

OJK juga mempererat koordinasi dengan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yakni Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Dari sisi global, OECD dan Bank Dunia pada Juni 2026 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini menjadi masing-masing 2,8% dan 2,5%. Prospek tersebut masih berpotensi memburuk jika konflik geopolitik kembali meningkat atau gangguan pasokan energi berlangsung berkepanjangan.

Ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama (higher for longer) turut menekan risk appetite investor global. Perekonomian Amerika Serikat dinilai masih resilien, namun inflasi kembali meningkat; Tiongkok masih bergulat dengan lemahnya konsumsi domestik; sementara aktivitas ekonomi Eropa tertahan meski sektor manufaktur mulai membaik.

Di dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi mencatat moderasi. PMI manufaktur melemah, surplus perdagangan menyempit, dan cadangan devisa tergerus, meski stabilitas perekonomian dinilai tetap terjaga melalui bauran kebijakan fiskal dan moneter.

"Ini untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dan sektor jasa keuangan dapat terus menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan berkelanjutan," pungkas Friderica.