Periskop.id - Dunia fashion anak muda saat ini sedang dihebohkan oleh sebuah kiblat gaya baru yang lahir dari kreativitas anak muda di Korea Selatan. 

Mengutip dari CNA, tren busana ini dinamakan sebagai Acubi, sebuah konsep berpakaian yang kini bertransformasi menjadi salah satu bahasa gaya paling khas dan dicintai oleh Gen Z di berbagai belahan dunia. 

Advertisement

Bagi orang yang masih awam dengan istilah fashion, Acubi ini mungkin agak sedikit sulit untuk dijabarkan atau didefinisikan secara kaku karena gayanya menggabungkan banyak elemen sekaligus. 

Di dalam satu tampilan Acubi, Anda akan menemukan perpaduan unsur Y2K atau tren busana cerah yang sempat populer di awal tahun 2000-an, sedikit sentuhan gaya soft grunge yang identik dengan kesan cuek dan acak-acakan, sedikit sentuhan minimalis khas pakaian jalanan atau streetwear Korea, serta ditambah dengan bonus getaran melankolis yang dahulu sangat populer di era keemasan media sosial Tumblr.

Apabila Anda sedang berselancar melihat video-video pendek di aplikasi TikTok atau berkesempatan langsung berjalan kaki menyusuri distrik Seongsu yang merupakan kawasan anak muda paling trendi di kota Seoul, Anda pasti akan langsung mengenali gaya ini dalam sekejap mata. 

Ciri utamanya sangat mudah dikenali melalui penggunaan baju rajut berwarna abu-abu pudar, celana kargo longgar dengan potongan pinggang yang rendah, teknik menumpuk pakaian secara asimetris atau tidak sejajar, penggunaan jaket berpenutup kepala atau hoodie ritsleting berukuran besar, serta celana denim bermotif pudar. 

Rumus dasar untuk meniru penampilan ini sebenarnya tampak sangat sederhana bagi siapa saja, yaitu cukup memadukan atasan baju yang ukurannya pas badan atau ketat dengan bawahan celana atau rok yang potongannya longgar, lalu dilapisi lagi dengan teknik tumpuk pakaian. 

Namun, daya tarik utama yang membuat banyak orang jatuh cinta terletak pada hasil akhirnya yang memancarkan kesan effortless, sebuah istilah untuk menggambarkan penampilan yang terlihat sangat keren dan modis tanpa terkesan seperti orang yang sedang dandan berlebihan atau terlalu keras berusaha.

Berbeda jauh dari kebanyakan tren di TikTok yang biasanya menuntut warna-warna mencolok atau kebangkitan gaya awal tahun 2000-an yang dinilai sangat feminin, Acubi justru melangkah ke arah sebaliknya. 

Gaya ini jauh lebih mengutamakan penggunaan palet warna yang lembut, potongan siluet pakaian yang santai, serta pembawaan karakter yang cuek atau nonchalant yang nyaris terlihat seperti sudah dipelajari dengan matang. 

Ketika seseorang mengenakan pakaian ini, seluruh baju yang menempel di tubuhnya akan terlihat seadanya dan mengalir apa adanya seolah-olah diambil secara acak dari lemari rumah, padahal di balik layar setiap detail kecil dan kecocokan pakaian tersebut sebenarnya sudah diperhitungkan dengan sangat teliti.

Asal-Usul Istilah Acubi dan Alasan di Balik Popularitasnya

Kualitas penampilan yang terkesan santai dan tidak pamer ini menjadi alasan utama mengapa tren gaya Acubi mampu bertahan jauh lebih lama di internet jika dibandingkan dengan tren-tren fesyen musiman lainnya yang biasanya cepat hilang. 

Apa yang semula hanya dimulai dari lingkaran kecil komunitas fashion di Korea kini sudah menyebar sangat luas melampaui batas kota Seoul. Gaya ini berhasil masuk ke dalam selera berpakaian jalanan global, memengaruhi industri pakaian siap saji atau fast fashion, hingga menguasai isi lemari pakaian milik para konsumen muda di seluruh dunia.

Menariknya, tren Acubi ini tidak muncul dari panggung peragaan busana atau runway desainer ternama, bukan pula lahir karena adanya dukungan promosi dari satu selebriti tunggal. Nama unik ini rupanya diambil langsung dari sebuah label pakaian lokal asal Korea Selatan yang bernama Acubi Club. 

Merek busana tersebut dikenal luas karena sering memproduksi baju rajut dengan potongan longgar, pakaian dasar yang sengaja didesain untuk bisa ditumpuk, serta teknik penataan gaya yang lembut. 

Karena produk dari toko tersebut sangat disukai dan ditiru oleh banyak orang, lama-kelamaan nama merek dagang Acubi Club bergeser fungsinya menjadi sebuah istilah singkat untuk menyebut seluruh konsep estetika fashion ini secara global.

Acubi pada dasarnya mengambil dan meramu ulang bahasa visual yang memang sudah eksis di dalam budaya berpakaian jalanan masyarakat Seoul. 

Beberapa di antaranya adalah kegemaran memakai pakaian luar berukuran besar yang dipadukan dengan baju atasan yang ketat di badan, pemilihan warna-warna kalem yang lebih diutamakan ketimbang warna neon yang menusuk mata, serta adanya kecenderungan kuat untuk melakukan teknik tumpuk pakaian daripada memakai satu baju tunggal yang terlalu heboh. 

Beberapa jenis pakaian inti yang wajib dimiliki jika ingin mencoba gaya ini meliputi baju rajut model gantung atau cropped, atasan kaus lengan panjang yang pas di badan, baju dalaman tanpa lengan atau tank top yang dibuat bertingkat, celana berpotongan pinggang rendah, rok berukuran panjang atau maxi, hingga hoodie berukuran sangat longgar. 

Untuk urusan warna, gayanya banyak didominasi oleh warna netral seperti abu-abu, arang atau charcoal, warna hijau bumi atau khaki, serta putih gading atau off-white, yang biasanya disempurnakan dengan pemakaian sepatu olahraga bersol tebal atau sepatu bot model tentara.

Meskipun ada jejak gaya awal tahun 2000-an yang tertanam di dalamnya, Acubi terasa jauh lebih lembut dan memiliki nuansa emosional yang lebih mendalam dibandingkan dengan kebangkitan tren pasca-pandemi yang cenderung gemerlap di media sosial. 

Jika gaya awal tahun 2000-an klasik selalu menekankan pada kilauan manik-manik, siluet baju yang ketat membentuk lekuk tubuh, dan kemewahan gaya ala kejaran kamera paparazzi, maka Acubi menyederhanakan semua kemewahan tersebut menjadi sesuatu yang lebih membumi, kalem, dan sangat nyaman untuk dipakai beraktivitas sehari-hari.

Kemunculan tren fashion ini juga sering kali mencerminkan suasana budaya masyarakat yang sedang terjadi, dan Acubi lahir pada momentum yang sangat tepat. 

Setelah bosan selama bertahun-tahun melihat unggahan Instagram yang terlalu dikurasi dengan sempurna serta estetika TikTok yang melelahkan karena penuh warna mencolok, para konsumen berusia muda mulai mengalihkan pandangan mereka. 

Mereka kini lebih condong memilih pakaian yang terasa lebih santai, praktis untuk dipakai bergerak, namun tetap memiliki ikatan emosional dengan karakter diri mereka.

Selain nyaman dipakai di dunia nyata, gaya Acubi ini juga sangat ramah dan cocok saat masuk ke dalam tangkapan kamera platform online. Perpaduan warna yang lembut, proporsi pakaian yang santai, serta gaya menumpuk baju yang pas terbukti membuat tampilan pakaian terlihat jauh lebih konsisten dan estetik saat direkam. 

Menurut data yang dirilis oleh platform analitik tagar TikTokHashtags.com, tagar dengan kata kunci Acubi sendiri telah sukses menghasilkan lebih dari 420 juta penayangan di internet melalui video panduan menata gaya, video unboxing belanjaan fashion Korea, hingga video penjelasan detail padu padan pakaian.

Faktor terbesar lain yang membuat gaya ini sangat populer di kalangan Gen Z adalah tingkat aksesibilitasnya yang sangat tinggi atau mudah dijangkau oleh siapa saja. 

Berbeda terbalik dengan estetika fashion lain yang mewajibkan seseorang membeli barang dari merek-merek mewah yang mahal, gaya Acubi bisa ditiru dengan cara berbelanja pakaian bekas di toko vintage, membelinya dari penjual independen asal Korea, atau bahkan memanfaatkan koleksi baju-baju lama yang sebenarnya sudah mengendap di dalam lemari pakaian Anda sendiri. 

Fleksibilitas serta sifatnya yang tidak diskriminatif terhadap isi dompet inilah yang membuat tren Acubi mampu bertahan kokoh di tengah gempuran tren internet lain yang datang dan pergi dengan cepat. 

Tergantung pada kreativitas Anda dalam memadukannya, gaya Acubi bisa dimodifikasi agar terlihat lebih sporty, minimalis, gaya anak band atau grunge, bahkan bisa terlihat sedikit futuristik tanpa perlu kehilangan identitas asli dari gaya Acubi itu sendiri.

Dongkrak Budaya K-Pop dan Sifatnya yang Gender Netral

Kebangkitan masif gaya Acubi di kancah global tentu saja tidak dapat dilepaskan dari pengaruh besar budaya populer Korea Selatan atau yang sering kita sebut sebagai K-Pop. 

Pihak yang pertama kali mengadopsi gaya ini adalah para idola K-Pop papan atas serta para pembuat konten digital asal Korea, di mana gaya busana santai mereka sehari-hari selalu diamati dan dibedah secara luas oleh jutaan penggemar setianya di internet. 

Salah satu personel grup ternama, Jennie, diakui ikut berjasa besar dalam mempopulerkan versi gadis keren yang lembut melalui kombinasi andalannya yang memadukan celana longgar, atasan mini, serta jaket luar yang longgar. 

Sementara itu di sisi lain, grup K-pop fenomenal NewJeans ikut memperkuat tren ini dengan menekankan versi gaya yang jauh lebih muda, energik, dan sporty melalui penggunaan celana denim santai, teknik tumpuk pakaian kasual, serta gaya minimalis yang sangat mudah ditiru oleh remaja awam.

Seiring berjalannya waktu dan estetikanya yang terus berkembang pesat, batas-batas gender dalam tren gaya Acubi ini terpantau hampir sepenuhnya memudar dan kabur. Memasuki tahun 2025, para bintang K-Pop pria terkemuka juga terpantau mulai ramai-ramai mengadopsi gaya ini ke dalam penampilan mereka. 

Beberapa anggota dari grup pria Enhypen, termasuk salah satunya Sunghoon, dilaporkan sering kali muncul di hadapan publik dengan mengenakan hoodie berukuran longgar, celana kargo banyak kantong, serta jaket luar yang sengaja ditumpuk-tumpuk. 

Kemunculan mereka semakin memperkuat posisi Acubi sebagai sebuah estetika busana yang netral gender atau bisa dipakai oleh laki-laki maupun perempuan, karena fokus utamanya adalah menonjolkan bentuk siluet pakaian serta nuansa emosional yang dibangun, bukan untuk memperlihatkan sisi maskulinitas atau feminin yang berlebihan.

Panduan Menggunakan Gaya Acubi di Tahun 2026

Jika Anda tertarik untuk mencoba mengaplikasikan gaya Acubi ini ke dalam penampilan harian Anda di 2026, rumus dasarnya terdengar sangat mudah dipahami, yaitu seimbangkan proporsi antara pakaian yang ukurannya pas di badan dengan pakaian yang ukurannya longgar, lakukan teknik tumpuk pakaian secara bijak, dan hindari kesan penampilan yang terlalu rapi atau kaku.

Kendati rumusnya terdengar mudah, dalam praktiknya gaya Acubi ini membutuhkan sedikit kepekaan rasa. Perbedaan mendasar antara padu padan pakaian yang dinilai berhasil dengan yang terlihat gagal biasanya terletak pada kontras atau tabrakan ukuran pakaian yang Anda pilih.

Sebagai contoh perpaduan yang baik, Anda bisa mencoba mengenakan hoodie ritsleting yang longgar di atas baju dalaman tank top yang memiliki tekstur garis, atau memadukan celana kargo berpotongan lebar dengan atasan baju rajut model gantung yang pas di badan, atau bisa juga dengan memakai jaket luar berukuran besar di atas kaus dasar yang ketat. 

Ketegangan visual yang dihasilkan dari tabrakan antara siluet pakaian yang santai dengan pakaian yang ketat inilah yang menjadi jantung utama dari seluruh estetika gaya ini.

Selain masalah ukuran, pemilihan warna juga memegang separuh dari total keberhasilan penampilan Anda. Dengan membatasi pilihan warna pada rentang abu-abu, warna hijau zaitun atau olive, hitam pudar, serta putih gading, Anda akan menciptakan satu kesatuan visual yang sangat harmonis. 

Keselarasan warna ini akan membuat teknik tumpuk pakaian yang Anda lakukan terlihat rapi dan disengaja, bukan terlihat berantakan seperti orang yang salah memakai kostum.

Gaya Acubi juga terus mengalami evolusi yang menarik sejak awal kemunculannya di industri fashion. 

Pada masa awal kehadirannya dahulu, tampilan Acubi yang banyak dipengaruhi oleh gaya berpakaian santai para anggota grup wanita Korea cenderung terlihat lebih feminin, seperti penggunaan rok mini, jaket pendek model shrug, kaus pendek ketat berukuran mini, serta dipadukan dengan sepatu bot model anak motor. 

Namun, menginjak era pertengahan tahun 2020-an, pengaruh potongan pakaian pria serta teknik penjahitan jas yang santai mulai masuk ke dalam radar, sehingga menambahkan kesan yang sedikit lebih rapi dan tegas tanpa menghilangkan kualitas semi-berantakan yang menjadi ciri khas utamanya.