periskop.id – Menteri Perdagangan Busan menjelaskan total ekspor Indonesia pada April mencapai USD 25,30 miliar.

 

Advertisement

Angka tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 12,32 persen dibanding Maret, atau melonjak hingga 21,98 persen dibanding periode sama tahun lalu.

 

"Secara kumulatif, pada Januari—April, total ekspor Indonesia mencapai USD 92,15 miliar atau meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 6,28 persen menjadi USD 87,74 miliar, sementara ekspor migas terkontraksi 8,30 persen menjadi USD 4,41 miliar. Tren positif ini menunjukkan kinerja perdagangan Indonesia yang tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global," ujar Budi, Rabu (3/6).

 

Peningkatan performa perdagangan bulanan ini dipicu lonjakan pengiriman sektor nonmigas luar negeri sebesar 13,66 persen. Sebaliknya, sektor migas justru mengalami penurunan performa sebesar 9,81 persen secara bulanan.

 

Beberapa komoditas nonmigas utama mencatatkan pertumbuhan tertinggi. Ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah memimpin dengan kenaikan mencapai 54,44 persen.

 

Komoditas tembakau serta rokok menyusul dengan pertumbuhan 43,49 persen. Kemudian ekspor kayu beserta barang olahannya juga meningkat 40,91 persen.

 

Pengiriman luar negeri untuk lemak dan minyak hewani atau nabati naik 38,71 persen. Mesin serta peralatan mekanis ikut tumbuh sebesar 37,26 persen secara bulanan.

 

Kenaikan performa pengiriman barang ini terjadi akibat lonjakan permintaan dari negara mitra dagang utama Indonesia. Tiga negara mencatatkan pertumbuhan tujuan nonmigas tertinggi.

 

Uni Emirat Arab memimpin pertumbuhan tujuan ekspor dengan kenaikan mencolok 305,21 persen. Afrika Selatan menyusul sebesar 288,40 persen, diikuti Belgia yang tumbuh 117,84 persen.

 

Performa positif sepanjang Januari hingga April ditopang oleh pertumbuhan sektor industri pengolahan. Sektor manufaktur ini meningkat 9,78 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

 

Komoditas nikel dan produk turunannya menjadi penopang utama dengan lonjakan mencapai 63,99 persen. Aluminium beserta barang daripadanya juga tumbuh tinggi sebesar 55,30 persen.

 

Bahan kimia organik mencatatkan kenaikan pengiriman sebesar 30,86 persen. Tembaga tumbuh 25,34 persen, sementara komoditas timah naik 24,62 persen secara kumulatif.

 

"Pertumbuhan ekspor komoditas-komoditas tersebut didorong tingginya permintaan global yang diikuti kenaikan harga di pasar internasional. Kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor industri pengolahan Indonesia," kata Mendag.