periskop.id- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatatkan realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga 31 Mei 2026, telah mencapai Rp88,15 triliun atau meningkay 17,53% dari bulan sebelumnya yang tercatat Rp75 triliun

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan jumlah penerima manfaat terus bertambah menjadi 63,13 juta orang, yang dilayani oleh 29.670 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Advertisement

Peningkatan cakupan program MBG juga diiringi dengan perbaikan kualitas layanan. Dari total penerima manfaat tersebut, sekitar 48,9 juta orang merupakan siswa, sementara 14,3 juta lainnya berasal dari kelompok non-siswa. 

Sebagai informasi, Badan Gizi Nasional (BGN) berencana menata ulang daftar penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sekolah-sekolah dari kelompok mampu disebut berpotensi dicoret dari skema distribusi program tersebut.

Kepala BGN Nanik S. Deyang menyampaikan, kebijakan itu merupakan bagian dari proses refocusing penerima manfaat yang tengah disiapkan pimpinan baru lembaga tersebut. Wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) akan menjadi prioritas utama ke depan.

"Nah, lalu refocusing. Misalnya nanti akan kita juga kalau ada sekolah-sekolah yang mahal gitu kan kita tanya apakah masih perlu MBG? Nah ini yang kita alihkan ke 3T," ujar Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6).

Penataan ulang ini dilakukan agar MBG benar-benar menyentuh kelompok yang paling membutuhkan, menurut Nanik. BGN, ia tegaskan, akan mengutamakan daerah 3T yang selama ini belum terlayani secara optimal.

Nanik menegaskan, target pemerintah bukan sekadar memperbanyak jumlah penerima. Tak kalah penting, ia melanjutkan, memastikan kelompok rentan dan daerah sulit terjangkau benar-benar mendapat akses program ini.

BGN juga menyoroti kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, sebagai sasaran prioritas. Kelompok ini dinilai Nanik sangat krusial karena periode awal kehidupan merupakan jendela emas intervensi gizi.