Periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan penjualan kendaraan bermotor mulai menunjukkan tren pemulihan seiring langkah pemerintah memperkuat likuiditas perbankan melalui penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Menurut Purbaya, sebelumnya penjualan mobil dan sepeda motor sempat mengalami perlambatan. Karena itu, pemerintah mengambil langkah untuk memastikan sektor perbankan memiliki likuiditas yang cukup guna menjaga penyaluran kredit dan mendukung aktivitas ekonomi.
"Jadi ketika data turun seperti itu, saya periksa uang yang digelontorkan ke perbankan masih efektif nggak. Kan Anda ingat, di awal September saya gelontorkan Rp200 triliun uang pemerintah dari BI ke perbankan," kata Purbaya saat sambutan di Pameran Otomotif GIIAS, Selasa (4/8).
Purbaya menjelaskan pemerintah telah menempatkan dana SAL sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke perbankan sejak akhir 2025. Kebijakan tersebut sempat menuai kritik karena dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian.
"Banyak orang bilang itu nggak ada gunanya. Kalau ada yang ngomong gitu, Anda harus ngerti bahwa dia nggak ngerti ekonomi," jelas dia.
Namun, ia menegaskan dana yang ditempatkan di perbankan terbukti membantu mendorong perbaikan aktivitas ekonomi, yang salah satunya tercermin dari membaiknya tren penjualan kendaraan bermotor.
"Karena begitu kita gelontorkan, ini mulai naik. Dari sini kan, dia naik ke sana bukan kebetulan. Februari mungkin sebelum Lebaran, musiman, setelah itu naik lagi. Tapi Anda lihat trennya naik terus ke atas. Even dengan angka 32,9 dan ini di 1,1 motor ini, saya masih deg-degan," tambahnya.
Meski tren penjualan mulai membaik, Purbaya mengaku pemerintah masih terus memantau perkembangan daya beli masyarakat dan kondisi sektor keuangan. Ia menyebut pada pertengahan Juni lalu sejumlah bank menyampaikan kekhawatiran terkait kondisi likuiditas yang mulai mengetat.
Merespons hal tersebut, pemerintah memutuskan memperpanjang penempatan dana SAL sebesar Rp200 triliun di perbankan hingga akhir 2026. Bahkan, pemerintah kembali menambah dana sebesar Rp200 triliun yang sebelumnya ditempatkan di Bank Indonesia.
"Terus saya tambah lagi Rp200 triliun dari uang saya yang ada di BI yang nganggur. Itu untuk memastikan daya beli masyarakat terjaga. Bukan itu, memastikan sistem finansial kita bisa mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat," tutup dia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar