Periskop.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan pengeboran 100 sumur eksplorasi pada tahun 2026.

"Untuk 2026, alhamdulillah kami punya program ambisius yaitu Triple 100, 100 sumur yang tadi saya sampaikan untuk sumur eksplorasi, 100 sumur multi-stage fracturing," ujar Kepala SKK Migas Djoko Siswanto di Jakarta, Rabu (11/2). 

SKK Migas sendiri sudah melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Schlumberger, untuk menyiapkan unit untuk pengeboran multi-stage fracturing.

"Dari upaya-upaya kami lakukan, sampai dengan bulan Februari ini alhamdulillah kita sudah dapat tambahan 13 sumur untuk eksplorasi dari work, program & budget (WP&B) yang sudah kami tandatangani," kata Djoko.

Kemudian untuk multi-stage fracturing, lanjutnya, SKK Migas sudah mendapatkan enam sumur tambahan. "Sehingga kami memerlukan upaya-upaya lagi nanti sepanjang tahun sampai dengan bulan Desember tambahan untuk eksplorasi 48 sumur, untuk multi-stage fracturing 77 sumur," lan jutnya. 

Sebagai informasi, SKK Migas bersama PT Schlumberger Geophysics Nusantara (SLB Indonesia) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU), sebagai kerangka kolaborasi strategis dalam mendukung percepatan peningkatan produksi. Antara lain penerapan teknologi multi-stage fracturing (MSF), guna meningkatkan produktivitas reservoir serta memperkuat upaya peningkatan produksi hulu migas nasional.

Penandatanganan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mendorong optimalisasi pengelolaan reservoir. Khususnya pada lapangan dengan karakteristik kompleks, melalui pemanfaatan teknologi, pertukaran pengetahuan, serta penerapan praktik terbaik global yang dapat direplikasi di berbagai wilayah kerja Kontrak Kerja Sama (PSC).

Kolaborasi SKK Migas dan SLB diarahkan untuk memperkuat integrasi proses hulu migas secara menyeluruh. Mulai dari aspek subsurface, desain dan konstruksi sumur, hingga tahap produksi. 

Inisiatif ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasi, mempercepat implementasi teknologi, sekaligus mendukung peningkatan kapasitas nasional dalam pengelolaan teknologi hulu migas. Djoko mengatakan, kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendorong peningkatan produksi migas nasional melalui pemanfaatan teknologi yang tepat guna.

SKK Migas pun, sambungnya, menyambut baik kolaborasi dengan SLB sebagai bagian dari upaya mempercepat adopsi teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sumur dan efisiensi operasi hulu migas.

Kerja sama ini diharapkan memberikan nilai tambah bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), serta berkontribusi terhadap pencapaian target produksi nasional secara berkelanjutan dalam rangka memperkuat ketahanan energi nasional.

Lifting Minyak
Sekadar informasi, SKK Migas mengungkapkan, produksi atau lifting minyak pada tahun 2025 mencapai rata-rata 605,3 ribu barel minyak per hari (MBOPD) atau 100,05% dari target APBN.

"Produksi atau lifting kita di tahun 2025. Alhamdulillah ini bisa mencapai, bahkan melebihi sedikit target APBN," ujar Djoko.

Menurut Djoko, angka 605,3 MBOPD ini adalah termasuk daripada komponen natural gas liquids (NGL) yang seterusnya dapat diproduksi menjadi LPG.

"Namun demikian, kalaupun kita tidak memasukkan NGL, Alhamdulillah yang kita selama sembilan tahun terakhir tidak pernah naik produksinya, kita sudah melebihi milestone di situ tidak turun, kemudian bahkan naik. Itu kalau kita bandingkan dengan tanpa NGL," tuturnya. 

Djoko juga menyampaikan, untuk lifting gas pada tahun 2025 rata-rata mencapai angka 951,8 MBOEPD atau 964 MMSCFD. Sebagai informasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menawarkan 110 wilayah kerja (WK) atau blok minyak dan gas bumi (migas) pada 2026, dalam rangka mencapai target produksi 1 juta barel minyak bumi pada 2029.

Angka tersebut lebih tinggi dari jumlah blok migas yang ditawarkan oleh Kementerian ESDM pada 2025, yakni sebanyak 75 blok. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, anggota-anggota Indonesia Petroleum Association (IPA) menyatakan minat, untuk turut meningkatkan eksplorasi dan meningkatkan produksi minyak di Indonesia.

Dalam pertemuan dengan IPA, Yuliot juga membahas mengenai apa saja yang industri migas butuhkan untuk turut mendukung peningkatan produksi minyak Indonesia. Termasuk kendala apa saja yang dihadapi oleh anggota-anggota IPA.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyampaikan, penambahan blok migas yang dilelang, dari 75 blok pada 2025 menjadi 110 blok, memiliki nilai yang signifikan. Laode menyampaikan, dari berbagai blok migas yang sudah dilelang, semua blok mendapatkan perhatian dan penawaran dari calon investor.