periskop.id - Kenaikan harga minyak dunia yang menembus kisaran US$115 per barel memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Meski demikian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tetap menjaga stabilitas harga BBM, khususnya yang bersubsidi.

Dalam keterangannya di Tokyo, Selasa (31/3), Bahlil menyatakan keputusan terkait kebijakan harga BBM subsidi akan ditentukan langsung oleh Presiden dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat.

“Insyaallah atas arahan Bapak Presiden, untuk BBM subsidi sampai saat ini, saya pikir Bapak Presiden memiliki hati untuk memperhatikan rakyat kecil. Percayalah, nanti tunggu tanggal mainnya, Bapak Presiden akan memutuskan seperti apa demi kebaikan rakyat, bangsa, dan negara,” ujar Bahlil.

Ia menjelaskan, skema penetapan harga BBM di Indonesia telah diatur dalam regulasi Kementerian ESDM sejak 2022, yang membagi dua kategori, yakni BBM industri dan non-industri. Untuk BBM industri, harga ditentukan mengikuti mekanisme pasar tanpa perlu diumumkan secara khusus.

“Kalau yang industri, tanpa diumumkan pun akan mengikuti harga pasar. Mau diumumkan atau tidak, tetap bergerak sesuai pasar,” jelasnya.

Bahlil menambahkan, BBM kategori industri umumnya digunakan untuk bahan bakar dengan angka oktan tinggi seperti RON 95 hingga RON 98, yang dikonsumsi oleh kelompok masyarakat mampu. Karena itu, pemerintah tidak memberikan subsidi untuk jenis BBM tersebut.

“Yang kita fokuskan adalah BBM subsidi. Di situlah negara hadir untuk melindungi masyarakat kecil,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia kembali menegaskan bahwa kebijakan terkait subsidi BBM akan diputuskan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat serta kondisi ekonomi nasional.

“Nah tadi saya katakan bahwa subsidi tunggu tanggal mainnya. Insyaallah Presiden dalam setiap kebijakan selalu memprioritaskan kepentingan rakyat. Kita tunggu saja keputusan resminya,” kata Bahlil.