periskop.id - Harga minyak dunia terkoreksi tajam lebih dari 4% pada Jumat (12/6/2026). Penurunan ini dipicu oleh kabar kemajuan perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Patokan internasional Brent Crude melemah 4,34% ke level US$86,36 per barel dalam perdagangan pagi di Eropa. Patokan minyak AS, WTI Crude, juga tergerus 4,47% dan hinggap di US$83,88.
Tren koreksi Brent sebenarnya sudah dimulai sejak Kamis. Pemicunya adalah langkah Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana serangan terhadap Iran, disertai klaimnya bahwa sebuah kesepakatan telah tercapai di antara kedua pihak.
Koreksi ini semakin dalam setelah media pemerintah Iran, pada hari yang sama, melaporkan beredarnya draf Memorandum of Understanding (MoU) antara Tehran dan Washington. Draf tersebut mencakup pencabutan sanksi oleh AS serta pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran dalam tenggat 30 hari.
Pasar energi global menaruh harapan besar pada pembukaan kembali Selat Hormuz sesegera mungkin. Normalisasi jalur strategis itu diyakini akan meredam gejolak pasokan energi internasional yang tengah berlangsung.
Draf MoU tersebut juga dilaporkan memuat ketentuan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Selama periode itu, pembicaraan lanjutan mengenai isu nuklir Iran dijadwalkan berlangsung.
Terkait perundingan perdamaian permanen, prosesnya disebut belum bisa dimulai sebelum sejumlah prasyarat dipenuhi oleh AS. Washington perlu menangguhkan sanksi minyak terhadap Iran, mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran, serta melepaskan separuh dana Iran yang selama ini dibekukan.
Meski demikian, media Iran menegaskan draf MoU itu belum berstatus final. Dokumen tersebut masih harus mendapat persetujuan dari pemimpin tertinggi Iran sebelum bisa dinyatakan berlaku.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pengiriman minyak mentah paling vital di dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global melintas melalui perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu, sehingga setiap gangguan di sana langsung berdampak pada harga energi internasional.
Situasi AS-Iran telah menekan pasar minyak dalam beberapa pekan terakhir. Kabar adanya draf kesepakatan menjadi sinyal pertama meredanya ketegangan kedua negara, kendati proses ratifikasi oleh pihak Iran masih menjadi tanda tanya besar.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar