Periskop.id — Qatar, Mesir, Pakistan, Oman, dan sejumlah mediator regional mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari kepada Amerika Serikat dan Iran. Jeda singkat itu dirancang untuk menghentikan siklus serangan, membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz, serta menyelamatkan jalur diplomasi yang semakin rapuh.
Namun, hingga proposal tersebut dilaporkan pada Senin (21/7). Washington dan Teheran belum menyatakan persetujuan. Kedua pihak masih melanjutkan operasi militernya sembari berusaha memperkuat posisi tawar sebelum kembali ke meja perundingan.
Sepuluh Hari untuk Membuka Selat Hormuz
Proposal terbaru mencakup penghentian sementara serangan Amerika Serikat dan Iran selama 10 hari. Dalam periode itu, kedua negara diharapkan merundingkan pengaturan jangka panjang mengenai kebebasan pelayaran dan keamanan di Selat Hormuz.
Skema tersebut juga mengusulkan pembukaan kembali dua jalur pelayaran. Rute selatan yang melewati perairan Oman diharapkan terbebas dari serangan Iran, sedangkan rute utara di wilayah Iran dibuka tanpa blokade Amerika Serikat.
“Kami menyampaikan kepada Amerika Serikat dan Iran bahwa kami mengusulkan masa pendinginan,” kata salah satu sumber regional yang terlibat dalam mediasi, dalam terjemahan.
Mediator berusaha menghidupkan kembali nota kesepahaman sementara yang sebelumnya menjadi dasar penghentian serangan dan pembicaraan mengenai program nuklir Iran serta tata kelola Selat Hormuz. Implementasi kesepakatan tersebut tersendat karena Washington dan Teheran saling menuduh melakukan pelanggaran.
Qatar hingga Pakistan Kembali Menjadi Jembatan
Upaya mediasi melibatkan Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, utusan Qatar Ali Al-Thawadi, Panglima Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, serta Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi.
Qatar dan Pakistan sebelumnya berperan dalam tercapainya gencatan senjata pada April 2026. Pemerintah Qatar ketika itu menyebut penghentian serangan sebagai langkah awal menuju deeskalasi dan menekankan pentingnya menjaga keamanan jalur maritim serta perdagangan internasional.
Pembicaraan terbaru dikembangkan dari pertemuan di Muscat pada 11 Juli. Amerika Serikat meminta Iran berkomitmen menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan. Serangan terhadap kapal komersial kemudian kembali terjadi dan diikuti pengeboman Amerika Serikat terhadap target-target Iran.
Washington Kaji Proposal sambil Menyiapkan Eskalasi
Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut sedang mempelajari tawaran gencatan senjata. Amerika Serikat juga dilaporkan meminta Israel menghindari tindakan yang dapat menutup kesempatan diplomasi.
Namun, persiapan militer tidak dihentikan. Amerika Serikat telah mengirim tambahan pesawat tempur dan pesawat pengisian bahan bakar ke kawasan. Militer Israel juga dilaporkan meningkatkan kesiagaan menghadapi kemungkinan konflik berkembang menjadi kampanye militer yang lebih luas.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan pintu perundingan masih terbuka, meski Washington tetap merespons serangan Iran terhadap kapal dan fasilitas Amerika.
“Amerika Serikat selalu terbuka terhadap solusi diplomatik, dan kami akan terus mencobanya,” kata Rubio, dalam terjemahan.
Pemerintahan Trump menyatakan serangan terhadap Iran akan berlanjut sampai presiden memutuskan sebaliknya. Washington ingin membalas kematian personel militernya sekaligus menekan Iran agar menghentikan serangan terhadap pelayaran di Hormuz.
Iran Konfirmasi Menerima Usulan
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membenarkan adanya komunikasi dari negara-negara mediator, tetapi tidak mengungkap apakah Teheran akan menerima gencatan senjata tersebut.
“Usulan yang disampaikan melalui mediator telah kami terima, tetapi pada tahap ini saya memilih tidak membahas rinciannya,” kata Baghaei, dalam terjemahan.
Pada saat bersamaan, Iran menyatakan militernya akan terus membalas operasi Amerika Serikat. Posisi ganda tersebut menunjukkan Teheran belum menutup jalur diplomasi, tetapi tidak ingin menghentikan serangan sebelum memperoleh jaminan mengenai Hormuz dan tuntutan politik lainnya.
Menurut AP, Washington dan Teheran sama-sama melihat eskalasi sebagai cara memaksa lawan mengalah. Strategi itu justru berisiko mempersempit ruang kompromi karena setiap serangan baru menambah korban dan memperdalam ketidakpercayaan.
Hormuz Jadi Inti Perundingan
Selat Hormuz menjadi pusat konflik karena jalur sempit tersebut merupakan salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi dunia. Sekitar 25 persen minyak yang diperdagangkan melalui laut melewati kawasan itu pada 2025. Hampir 20 juta barel minyak per hari dikirim melalui Hormuz.
Sekitar seperlima perdagangan gas alam cair dunia juga melintasi selat tersebut, terutama ekspor LNG dari Qatar. Gangguan berkepanjangan dapat memengaruhi harga minyak, gas, bahan bakar, biaya pelayaran, dan inflasi di berbagai negara.
Jalur alternatif juga terbatas. Hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki kapasitas pipa cukup berarti untuk mengalihkan sebagian ekspor tanpa melewati Hormuz. Kapasitas cadangannya diperkirakan hanya 3,5 juta hingga 5,5 juta barel per hari, jauh di bawah volume normal yang melintas melalui selat.
Organisasi Maritim Internasional mencatat 59 insiden terkonfirmasi di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz hingga 20 Juli 2026. Sedikitnya 17 pelaut dilaporkan meninggal dalam rangkaian insiden tersebut.
Jeda Bukan Berarti Perang Berakhir
Gencatan senjata 10 hari pada dasarnya hanya memberi waktu untuk menghentikan serangan dan memulihkan perundingan. Proposal itu belum menyelesaikan perbedaan mengenai program nuklir Iran, sanksi Amerika Serikat, pengamanan jalur pelayaran, maupun keterlibatan Israel dan kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.
Tantangan terbesarnya adalah rendahnya kepercayaan. Amerika Serikat menilai Iran menggunakan kontrol atas Hormuz sebagai alat tekanan, sedangkan Teheran menuduh Washington melanggar kesepakatan dan terus menjalankan agresi militer.
Selain itu, konflik mulai menyebar ke jalur perdagangan lain. Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade maritim terhadap pelabuhan Arab Saudi, meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan dapat meluas dari Teluk Persia menuju Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.
Karena itu, proposal 10 hari lebih tepat dipandang sebagai upaya menghentikan keadaan agar tidak semakin buruk, bukan perjanjian damai. Keberhasilannya bergantung pada kesediaan Amerika Serikat dan Iran menahan diri sebelum serangan balasan berikutnya menutup kembali ruang diplomasi.
Untuk saat ini, para mediator telah menawarkan jalan keluar. Namun, Washington dan Teheran masih berdiri di antara dua pilihan: menerima jeda untuk berunding atau membawa konflik menuju eskalasi yang lebih luas.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar