periskop.id - Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mendorong penguatan ekosistem e-sports nasional sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi digital Indonesia. Ia menilai e-sports telah bergeser jauh dari sekadar hiburan menjadi profesi dan cabang prestasi yang diakui secara global.

Menurutnya, lebih dari 210 juta pengguna internet di Indonesia yang didominasi generasi muda adalah modal besar yang harus dimanfaatkan secara optimal. Potensi itu, ia tekankan, hanya bisa dioptimalkan lewat ekosistem yang terstruktur dan berkelanjutan agar Indonesia mampu tampil sebagai kekuatan utama e-sports dunia.

Advertisement

"E-sports bukan lagi sekadar hobi. E-sports adalah prestasi, e-sports adalah profesi, dan e-sports adalah bagian dari ekonomi digital nasional," kata Ibas dalam Diskusi Kebangsaan bertema 'E-Sports Nasional & Asian Games: Prestasi, Talenta, dan Ekonomi Digital Bangsa' di Jakarta, Senin (8/6).

Ibas juga mengapresiasi negara-negara yang lebih dulu membangun ekosistem e-sports yang kokoh, seperti Korea Selatan, Denmark, dan Tiongkok. Figur seperti 'Faker' Lee Sang-hyeok dan 'N0tail' Johan Sundstein ia sebut sebagai bukti nyata bahwa ekosistem yang solid mampu melahirkan juara dunia.

Catatan prestasi atlet e-sports Indonesia dinilai tidak kalah membanggakan. Sejak 2018, para atlet telah mengumpulkan 18 medali emas, 10 perak, dan 10 perunggu di berbagai ajang internasional. Data tersebut dipaparkan Wakil Ketua Harian II PB ESI, Irjen Pol. (Purn.) Dr. Benone Jesaja Louhenapessy, dalam forum yang sama.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu menegaskan, capaian tersebut membuktikan Indonesia tidak kekurangan talenta. Liga e-sports nasional sendiri saat ini telah menjaring lebih dari 126.000 atlet dari seluruh penjuru Indonesia, meskipun penguatan ekosistem yang berkelanjutan tetap dibutuhkan agar potensi itu berkembang optimal.

"Kita tidak boleh hanya menjadi pasar. Kita harus menjadi produsen talenta digital dunia," tegasnya.

Ibas merinci sejumlah langkah strategis yang perlu segera diambil, di antaranya perluasan akademi daerah, penguatan sport science, percepatan infrastruktur digital, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, DPR, industri, dan PB ESI. Ia turut menyoroti berbagai hambatan yang masih mengganjal, mulai dari ketimpangan pembinaan antardaerah dan minimnya pelatih profesional, hingga stigma negatif terhadap e-sports di sebagian kalangan masyarakat.

Sejumlah peserta diskusi juga menyuarakan kebutuhan mendesak menjelang Asian Games. Benone menyebutkan persiapan masih terkendala belum dimulainya pelatnas, kebutuhan training camp internasional, serta minimnya peralatan berstandar tinggi dan pendanaan bagi pelatih. Perwakilan Garudaku, Robertus, menambahkan banyak sekolah dan perguruan tinggi belum sepenuhnya menerima e-sports sebagai jalur pengembangan prestasi siswa. Peserta lain, Ahmad Marsam dan Andika Raman, turut mendorong peningkatan kualitas sparring partner, regenerasi atlet, dan ketersediaan perangkat kompetisi yang lebih memadai.

Beberapa anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat menyatakan komitmen serupa. Rizki Aulia Rahman Natakusumah menyebut forum yang diinisiasi Ibas sebagai ruang strategis untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kebijakan publik. Anita Jacoba Gah mendorong pembahasan khusus melalui Rapat Dengar Pendapat di Komisi X, sementara Marwan Cik Asan menilai sektor ini memerlukan dukungan regulasi lintas komisi agar berkembang secara optimal.

"Kita ingin membangun ekosistem yang mandiri dan berkelanjutan. Esports bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan generasi muda Indonesia dan kebanggaan bangsa di tingkat global," pungkas Ibas.