periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive.
Welcome to the real world, di mana deadline mepet, revisi bertubi-tubi, klien bawel, dan bos yang minta update tiap jam bisa bikin kita stres setengah mati. Di tengah chaos-nya dunia profesional, kadang kita ngerasa harus putar otak buat survive.
Dan jujur aja, sering kali survival kit andalan kita adalah: Bohong Putih.
Coba ngaku, siapa yang pernah ngomong gini pas lagi jam kerja: "Halo Pak, iya ini naskah liputannya udah masuk tahap editing kok!" (Padahal ngetik huruf pertama aja belum). "Waduh, maaf banget Bu, emailnya error kayaknya, nggak masuk di inbox saya." (Padahal udah di-read dari tiga hari lalu tapi lupa follow up). "OTW Pak!" (Iya, On The Way ke kamar mandi).
Alasannya klasik: demi "menjaga profesionalitas", biar klien nggak kabur, narasumber nggak ngambek, atau sekadar nyelamatin leher dari semprotan atasan. Di hari biasa, dosa lisan ini mungkin numpuk tanpa kita sadar. Tapi masalahnya, gimana kalau "bohong demi kerja" ini kita lakuin pas lagi puasa Ramadan?
Apakah puasa kita auto-batal dan harus diganti bulan depan? Atau kita cuma ngumpulin dosa free ongkir? Mari kita bedah pakai kacamata fiqih dan etika kerja.
Secara Fiqih: Batal Fisiknya Nggak?
Kalau kita bicara sah atau nggak sahnya puasa secara hukum positif fiqih, jawabannya: TIDAK BATAL.
Sama halnya dengan ghibah (yang udah kita bahas sebelumnya), berbohong atau berdusta itu tidak termasuk dalam hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik. Berbohong tidak memasukkan zat apa pun ke dalam rongga tubuh (jauf), dan tidak masuk kategori syahwat yang membatalkan.
Jadi, kalau siang-siang kamu bohongin bos soal progress kerjaan, puasa kamu secara teknis tetap berlanjut sampai Maghrib. Kamu nggak perlu utang puasa (qadha) di hari lain.
Tapi... Pahalanya Langsung Ludes!
Meski nggak batal, jangan keburu senyum lega dulu, Sobat Halalive. Di sinilah letak ngerinya. Berbohong itu masuk dalam kategori Muhbithat al-Shaum, alias para pembunuh pahala puasa.
Bohong demi nutupin kesalahan kerjaan itu tetaplah dusta (qaulaz zuur). Rasulullah SAW ngasih warning keras banget buat orang yang puasanya cuma nahan lapar, tapi mulutnya tetep licin buat nipu orang lain:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
(Latin: Man lam yada' qaulaz zuuri wal 'amala bihi falaisa lillahi haajatun fii an yada'a tha'aamahu wa syaraabahu)
Artinya: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya (menahan lapar dan haus)." (HR. Bukhari)
Coba bayangin, kamu udah bangun sahur jam 3 pagi, nahan kopi, nahan laper pas lagi hectic-hectic-nya liputan atau ngerjain proyek, eh di mata Allah nilai puasamu NOL. Nggak ada harganya sama sekali cuma gara-gara ngeles "Sistemnya lagi down nih" demi nutupin kelalaian sendiri. Rugi bandar!
"Tapi Kan Terpaksa, Min! Kalau Jujur Nanti Proyek Batal!"
Nah, ini pembelaan paling sering muncul. "Ini kan darurat, kalau jujur bilang belum dikerjain, nanti SP turun atau klien kabur. Bukannya bohong pas darurat itu boleh?"
Eits, tunggu dulu. Konsep "darurat" dalam Islam itu nggak sembarangan, lho. Darurat itu kondisinya berkaitan sama ancaman nyawa atau kehormatan. Kehilangan satu klien atau kena omel bos karena kita emang salah/telat, itu bukan darurat. Itu namanya konsekuensi logis dari keteledoran kita.
Islam membolehkan berbohong (dusta yang dihalalkan) cuma dalam tiga kondisi sangat spesifik:
Saat peperangan (strategi militer).
Mendamaikan dua orang yang sedang bertikai.
Obrolan suami istri untuk menyenangkan hati pasangan (misal: "Masakan kamu paling enak sedunia!", padahal keasinan).
Selain tiga itu? Hukum asal bohong tetaplah haram. Jadi, berbohong buat kelancaran karir atau bisnis sama sekali nggak masuk daftar pengecualian.
Etika Kerja Islam: Shidiq Itu Mahal
Sobat Halalive, ingat nggak core value Nabi Muhammad SAW sebelum jadi Rasul? Beliau itu businessman sukses, pedagang top yang track record-nya diakui se-Jazirah Arab. Dan modal utamanya cuma satu: Shidiq (Jujur). Beliau bergelar Al-Amin (Yang Dapat Dipercaya).
Di dunia kerja modern, kejujuran itu barang langka. Justru, karyawan atau rekan bisnis yang berani jujur mengakui kesalahan dan langsung ngasih solusi, nilainya bakal lebih tinggi di mata atasan atau klien jangka panjang.
Nabi SAW bersabda: دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
(Latin: Da' maa yariibuka ilaa maa laa yariibuka fa inash shidqa thuma'niinatun wa innal kadziba riibatun)
Artinya: "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu membawa ketenangan, dan dusta itu membawa keraguan (kegelisahan)." (HR. Tirmidzi)
Bener kan? Kalau kita bohong soal kerjaan, batin pasti nggak tenang. Bawaannya gelisah takut ketahuan, harus nyiapin kebohongan baru buat nutupin kebohongan lama. Mental health makin hancur deh.
Gimana Dong Solusinya Pas Kepepet?
Kalau kamu ada di posisi kepepet karena lupa ngerjain tugas atau telat, coba praktikkan dua hal ini:
- Jujur dan Kasih Solusi (Take Accountability): Daripada bilang "Wah emailnya nggak masuk", mending gentle bilang: "Mohon maaf Pak/Bu, update ini terlewat oleh saya. Beri saya waktu 30 menit ke depan, saya akan selesaikan dan kirimkan langsung." Klien mungkin bete 5 menit awal, tapi mereka bakal respek karena kamu tanggung jawab.
- Gunakan Tauriyah (Sangat Terpaksa): Tauriyah adalah mengucapkan kata-kata yang maknanya bersayap atau ambigu. Secara harfiah tidak bohong, tapi pendengar menangkap maksud lain. Tapi hati-hati, skill ini butuh kecerdasan tingkat tinggi dan nggak boleh dipakai buat menzalimi hak orang lain. Saran terbaik: mending balik ke poin nomor satu. Jujur aja, ngab!
Kerja keras cari cuan buat keluarga atau persiapan masa depan itu nilainya ibadah, Sobat. Puasa juga ibadah mulia. Jangan sampai kita ngerusak satu ibadah agung (puasa) demi melancarkan ibadah yang lain (kerja) pakai cara yang dilarang.
Rezeki itu udah diatur. Bos marah, klien lepas, itu bagian dari dinamika kerja. Tapi puasa yang pahalanya ambyar gara-gara lisan kita yang nggak dijaga, itu kerugian abadi.
Yuk, latih diri kita jadi profesional yang nggak cuma pintar, tapi juga punya integritas. Biar karir meroket, pahala puasa juga full senyum.
Pernah punya pengalaman kepepet di kantor terus bingung mau jujur atau bohong pas puasa? Coba share ceritamu!
Sumber Rujukan
- Hadits ancaman bohong saat puasa (Sahih Bukhari): https://sunnah.com/bukhari:1903
- Hadits tentang kejujuran membawa ketenangan (Jami' at-Tirmidzi): https://sunnah.com/tirmidhi:2518
Tinggalkan Komentar
Komentar