periskop.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap praktik tindak pidana korupsi saat ini telah bertransformasi menjadi sebuah ekosistem terorganisir. Lembaga antirasuah ini menjelaskan para koruptor sengaja memanfaatkan lingkaran terdekat mulai dari keluarga hingga kolega politik guna menyamarkan uang haram.

“Kondisi ini menunjukkan korupsi layaknya sebuah ekosistem: ada yang mengatur, ada yang menjalankan, ada yang menyimpan,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo melalui keterangan tertulis pada Selasa (21/4). 

Ia menyebut posisi strategis pejabat kini kerap menjadi alat balas jasa. Jabatan tersebut juga sering dimanfaatkan sekadar untuk pembiayaan politik.

Jaringan terdekat koruptor, menurutnya, memegang peran sangat vital dalam ekosistem kejahatan. Keterlibatan mereka kerap dimulai sejak tahap perencanaan awal hingga eksekusi.

Keluarga dan orang kepercayaan kerap bertugas sebagai perantara penerimaan uang hasil korupsi. Ia bilang, pihak lain memiliki peran spesifik layaknya gudang penyimpanan uang haram.

“Circle ini tidak hanya berperan pada saat modus operandi korupsi dilakukan, tetapi juga seringkali menjadi layering,” jelas Budi.

Lingkaran terdekat sengaja dipasang menjadi instrumen utama penerima aliran dana. Mereka membantu menyamarkan asal-usul aset melalui pembukaan rekening-rekening tertentu.

Skema rumit ini dirancang pelaku utama demi satu tujuan khusus. Koruptor ingin memutus mata rantai pelacakan aparat penegak hukum.

KPK turut merilis statistik profil gender para pelaku kejahatan kerah putih ini. Catatan penindakan periode 2004 hingga 2025 menunjukkan dominasi kelompok laki-laki.

Lembaga antirasuah menangani total 1.904 koruptor selama rentang waktu tersebut. Sebanyak 1.742 orang atau 91% merupakan laki-laki.

Pelaku perempuan hanya tercatat sebanyak 162 orang atau sekitar 9%. Angka ini memperlihatkan ketimpangan nyata dalam struktur kejahatan keuangan di tanah air.

KPK kini mempererat kolaborasi bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Upaya ini bertujuan menghancurkan ekosistem korupsi terorganisir tersebut.

“Kolaborasi ini tentunya menjadi krusial dalam memperkuat pembuktian,” tutur Budi.

Analisis transaksi keuangan dari PPATK mempermudah kerja penyidik melacak aset. KPK kini lebih mudah menelusuri uang haram di berbagai lapisan penyamaran.

Dukungan PPATK membantu KPK memetakan pola pergerakan uang secara presisi. Identifikasi pihak penerima aliran dana gelap pun menjadi jauh lebih cepat.

KPK menegaskan pemberantasan korupsi tidak bisa lagi sekadar menyasar pelaku utama di permukaan. Strategi penindakan perlu mengurai seluruh jejaring pendukung kejahatan.

Langkah ini sekaligus bertujuan menargetkan lingkungan terkecil koruptor. KPK berupaya memperkuat benteng integritas masyarakat sejak dari keluarga dan rekan kerja.