periskop.id - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim mengaku tidak pernah mengetahui besaran gaji yang diterimanya selama lima tahun menjabat sebagai menteri. Hal tersebut diungkapkan Nadiem saat dicecar Jaksa Penuntut Umum (JPU).
Ketegangan terjadi ketika jaksa mempertanyakan transparansi penghasilan Nadiem serta potongan dana setiap bulan selama berada di pemerintahan. Nadiem berdalih bahwa fokus utamanya saat menjabat bukanlah mencari penghasilan dari gaji negara.
“Kan tidak, Pak. Saya tidak ingat. Jujur karena saya tidak pernah melihat gaji saya. Yang jelas, saya tiap bulan rugi waktu menjadi menteri. Tidak ada penghasilan, jadi uang saya pasti turun terus,” kata Nadiem di Pengadilan Tipikor PN Jakarta Pusat, Senin (11/5).
Nadiem menegaskan, selama masa jabatannya ia berusaha hidup apa adanya dengan fasilitas yang diberikan negara.
“Sudah saya jawab, Pak. Saya tidak ingat. Selama lima tahun saya tidak ingat gaji menteri. Karena saya bekerja bukan untuk gaji. Bukan persoalan bergaji. Dengan gaji itulah kita berusaha hidup apa adanya,” ujarnya.
Dalam persidangan tersebut, jaksa juga mengonfrontasi keterangan Nadiem sebelumnya terkait sumber penghasilan di luar posisinya sebagai pendiri Gojek. Menanggapi hal itu, Nadiem menegaskan bahwa satu-satunya basis kekayaannya adalah kepemilikan saham di perusahaan teknologi tersebut.
“Bukan, Pak Jaksa. Saya tidak punya sumber kekayaan lain di luar saham saya di PT AKAB,” tegas Nadiem.
Diketahui, Nadiem Makarim bersama terdakwa lain telah didakwa merugikan negara Rp2,1 triliun dalam kasus dugaan korupsi terkait pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek periode 2019–2022. Nadiem juga didakwa memperkaya diri sendiri sebesar Rp809 miliar.
Tinggalkan Komentar
Komentar