Periskop.id – Sebanyak 188 personel gabungan TNI dan Polri masih disiagakan di kawasan Jalan Tambak dan Matraman Dalam, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/7). Pengamanan diperkuat untuk mencegah bentrokan susulan sekaligus mengawal penyidikan dua perkara yang telah menyeret tujuh orang sebagai tersangka.

Ratusan personel tersebut berasal dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, Polsek Menteng, dan TNI. Mereka ditempatkan di sejumlah titik yang dianggap memerlukan pengawasan, terutama di sekitar Jalan Tambak, Jalan Matraman Dalam, dan Masjid Jami Matraman.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan kehadiran aparat ditujukan untuk memulihkan rasa aman sehingga aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi dapat kembali berjalan.

"Termasuk para pedagang dan pelaku UMKM di sekitar lokasi, dapat kembali berjalan normal," katanya.

Pengamanan dilakukan melalui patroli, pengaturan akses, komunikasi dengan masyarakat, serta pendekatan persuasif. Aparat juga terus mengevaluasi kondisi sebelum mengurangi jumlah personel secara bertahap.

"Petugas tetap bersiaga dan melakukan pemantauan di sejumlah titik. Kami mengedepankan patroli, pengaturan akses, negosiasi, serta pendekatan persuasif agar situasi tetap aman dan masyarakat dapat menjalankan aktivitasnya dengan tenang," kata Budi.

Tujuh Orang Ditetapkan sebagai Tersangka

Bersamaan dengan pengamanan wilayah, Polda Metro Jaya menetapkan tujuh tersangka dalam dua perkara pidana yang berkaitan dengan rangkaian bentrokan pada Minggu (26/7).

Empat orang berinisial GNA, AJL, FAM, dan ELL ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara perusakan gerobak nasi uduk di Jalan Matraman Dalam. Penetapan dilakukan setelah penyidik memeriksa delapan saksi serta menganalisis rekaman CCTV dan alat bukti lainnya.

"Untuk perkara perusakan gerobak makanan pedagang, sudah ditetapkan empat orang tersangka berdasarkan keterangan delapan saksi, termasuk petunjuk dari CCTV dan alat bukti lainnya," kata Budi kepada awak media di Jakarta, Senin.

Tiga tersangka lainnya, yakni SK, AS, dan OR, diproses dalam perkara pengeroyokan di Jalan Tambak yang menyebabkan seorang korban meninggal dunia. Ketiganya telah diamankan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

"Perkara kedua, terjadinya pengeroyokan mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain, sudah dilakukan pemeriksaan delapan saksi dan ditetapkan tiga orang tersangka. Saat ini sudah diamankan oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya," ujarnya.

Penyidikan kedua perkara kini ditangani bersama oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Pusat. Polisi juga masih mendalami kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat dalam perusakan, penganiayaan, maupun bentrokan tersebut.

Berawal dari Teguran terhadap Pengendara Motor

Berdasarkan penyelidikan sementara, keributan bermula sekitar pukul 10.00 WIB ketika dua pengendara sepeda motor menggeber kendaraannya di depan pedagang nasi uduk yang berjualan di dekat Masjid Jami Matraman.

Kedua pengendara tersebut ditegur karena menimbulkan kebisingan. Mereka kemudian meninggalkan lokasi, tetapi diduga kembali bersama sekitar lima orang dan merusak gerobak pedagang. Peristiwa itu memicu perlawanan warga hingga bentrokan meluas ke Jalan Tambak.

Dua kelompok kemudian terlibat aksi saling serang dan melempar batu. Sebuah bangunan semipermanen serta sejumlah sepeda motor terbakar. Dua korban dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dalam kondisi kritis. Seorang korban berinisial K yang berusia 23 tahun meninggal setelah mendapatkan perawatan, sedangkan satu korban lainnya masih dirawat intensif.

Aktivitas Warga dan UMKM Kembali Berjalan

Sehari setelah bentrokan, Polda Metro Jaya menyatakan aktivitas masyarakat di sekitar Jalan Tambak mulai kembali normal. Sejumlah pedagang dan pelaku UMKM juga telah membuka usahanya, meski aparat gabungan masih berjaga di lokasi.

"Sama-sama kita lihat bahwa situasi terkini aktivitas masyarakat di lokasi keributan yang terjadi pada Minggu (26/7) sudah dapat berjalan seperti biasa," kata Budi.

Apabila situasi terus membaik, jumlah personel akan dikurangi dan pola pengamanan disesuaikan tanpa mengganggu aktivitas warga maupun arus lalu lintas.

"Apabila memang situasi ini sudah dapat benar-benar dikendalikan, pasti personel juga akan mulai kita tarik, kita kendorkan. Ada pola-pola lain, cara-cara lain yang nanti akan kita berlakukan," ujarnya.

Kendati kegiatan masyarakat berangsur pulih, MI Raudlotul Athfal Karisma di Jalan Matraman Dalam masih menerapkan pembelajaran jarak jauh sementara. Kebijakan tersebut dipilih sebagai langkah antisipasi hingga keamanan di sekitar sekolah dinilai benar-benar stabil.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar melalui media sosial.

"Kami ingin memberikan imbauan kepada warga, khususnya warga Matraman Dalam, Kelurahan Pegangsaan, agar tidak terprovokasi dan tetap dapat melaksanakan aktivitas seperti biasanya," kata Reynold.

Polisi juga meminta masyarakat memberikan ruang kepada penyidik untuk menuntaskan perkara secara profesional, transparan, dan akuntabel. Perkembangan penyidikan, termasuk kemungkinan penambahan tersangka, akan disampaikan kepada publik secara berkala.