periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive.
Perasaan baru kemarin kita heboh menyusun target muluk-muluk di hari pertama puasa. Beli Al-Qur'an baru, download aplikasi habit tracker buat salat, sampai bikin list masjid mana saja yang mau didatangi buat Tarawih.
Tapi tahu-tahu, kita sudah berada di pengujung bulan. Mall sudah mulai penuh sesak oleh orang yang berburu baju Lebaran, grup WhatsApp keluarga mulai sibuk membahas tiket mudik, sementara di sudut hati kita yang paling dalam, ada rasa panik yang tiba-tiba menyergap: "Tunggu dulu, perasaan puasaku masih gini-gini aja deh? Tarawih bolong-bolong, target tadarus jauh dari harapan."
Pertanyaannya: Kenapa ya setiap tahun siklus penyesalan ini selalu berulang? Apakah kita yang memang tidak pernah siap, atau ini adalah bagian dari fase menjadi manusia biasa?
Sindrom Penyesalan Tahunan
Sobat Halalive, merasa "belum ngapa-ngapain" di akhir Ramadan itu adalah fenomena yang sangat wajar. Kita sering kali terjebak dalam ekspektasi kesempurnaan. Di awal bulan, kita memasang target sprint layaknya seorang atlet Olimpiade. Padahal realitanya, kita masih harus bangun pagi untuk menembus macetnya KRL, menghadapi deadline kantor yang tidak kenal ampun, dan survive dari kelelahan fisik.
Ketika realita kelelahan ini bertabrakan dengan target ibadah yang tinggi, muncullah rasa bersalah. Kita merasa menjadi "hamba yang gagal" karena tidak bisa memaksimalkan bulan suci ini seperti cerita-cerita orang saleh zaman dulu.
Tapi tunggu dulu. Jangan biarkan rasa bersalah itu membuatmu berhenti melangkah.
Rasa Bersalah Itu Tanda Hatimu Masih Hidup
Coba ubah sudut pandangmu sebentar. Perasaan gelisah, sedih, dan menyesal melihat Ramadan yang hampir pergi sebenarnya adalah sinyal yang sangat bagus. Itu adalah bukti nyata bahwa di dalam dadamu masih ada sebongkah iman yang menyala.
Kalau hatimu sudah mati, kamu tidak akan peduli Ramadan mau pergi atau menetap. Kamu akan bersikap masa bodoh. Jadi, peluklah rasa bersalah itu. Jadikan ia sebagai bahan bakar untuk memacu langkahmu di sisa hari yang ada.
Amal Itu Dinilai dari Akhirnya (Husnul Khatimah)
Dalam Islam, ada sebuah prinsip luar biasa yang bisa menjadi pelipur lara bagi kita yang sering "muntaber" (mundur tanpa berita) di pertengahan Ramadan. Rasulullah SAW pernah bersabda: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ (Latin: Innamal a'maalu bil khawaatiim) Artinya: "Sesungguhnya amalan itu dinilai dari akhirnya." (HR. Bukhari no. 6607).
Ibarat sebuah pertandingan sepak bola, tidak peduli seberapa berantakan formasimu di babak pertama, atau seberapa sering kamu kebobolan di pertengahan laga. Selama peluit panjang belum ditiup, kamu masih punya kesempatan untuk mencetak gol kemenangan di menit-menit terakhir (injury time).
Ramadan belum selesai. Malam Lailatul Qadar—malam yang lebih baik dari seribu bulan—justru disembunyikan oleh Allah di sepuluh malam terakhir, bukan di awal bulan. Ini adalah fasilitas "jalur VIP" dari jalur langit buat kita-kita yang tertatih-tatih di awal, agar bisa mengejar ketertinggalan dengan satu malam yang kualitasnya luar biasa.
Menyapu Sisa Waktu yang Ada
Sobat Halalive, mari kita forgive ourselves (maafkan diri kita sendiri). Lupakan target 30 juz yang mungkin baru tercapai 5 juz. Lupakan Tarawih yang sempat bolong karena ketiduran setelah shift malam. Fokuslah pada apa yang ada di depan mata.
Di sisa waktu ini, mari kita ubah strategi. Tidak perlu muluk-muluk, yang penting mindful. Bangunlah 15 menit lebih awal sebelum sahur, gelar sajadahmu, dan mengobrol-lah dengan Allah meski hanya lewat dua rakaat salat Tahajud. Sedekahlah sedikit setiap subuh. Atau sekadar memaafkan orang-orang yang pernah menyakitimu sebelum kamu tidur.
Ramadan mungkin akan segera pergi, tapi Tuhan-nya Ramadan tidak pernah ke mana-mana.
Kalau boleh jujur, penyesalan apa sih yang paling mengganjal di hatimu menjelang akhir Ramadan ini? Tuliskan pelan-pelan di kolom komentar, mari kita saling mendoakan agar di sisa waktu ini, Allah jadikan akhir ibadah kita sebagai yang terbaik. 👇
Sumber Rujukan:
- Hadits tentang amalan dinilai dari akhirnya (HR. Bukhari): https://sunnah.com/bukhari:6607
Tinggalkan Komentar
Komentar